Capaian tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, Muhsin Rahayaan, dalam dialog interaktif Maluku Tenggara Menyapa yang disiarkan langsung Pro 1 RRI Tual, Rabu (20/5/2026).
Muhsin mengatakan, penurunan angka stunting merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor melalui intervensi spesifik dan sensitif, mulai dari pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal, distribusi tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, hingga edukasi kesehatan masyarakat.
“Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada prosesnya, mulai dari berat badan tidak naik, gizi kurang hingga gizi buruk. Itu yang kami cegah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tiga wilayah di Kei Besar yakni Ohoi Yam Timur, Banda Ely Rahan, dan Ohoi Mun ditetapkan sebagai lokus prioritas penanganan stunting tahun ini.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mulai menunjukkan dampak positif. Saat ini empat dapur MBG telah beroperasi di wilayah Kei Kecil, dengan target pengembangan hingga 39 dapur pada 2026 yang akan menjangkau wilayah terpencil.
Menurut Muhsin, kelompok sasaran MBG tidak hanya anak sekolah, tetapi juga balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Ini menjadi penguat upaya percepatan penurunan stunting di Maluku Tenggara,” katanya.
Meski demikian, pemerintah mengakui tantangan geografis kepulauan masih menjadi kendala utama distribusi layanan kesehatan.


