Khutbah Idul Adha di Maluku Tenggara Sentil Korupsi dan Krisis Moral Bangsa

Potret Khutbah Idul Adha di Maluku Tenggara Sentil Korupsi dan Krisis Moral Bangsa. Foto/dok: istimewa.
LANGGUR, HARIANMALUKU.com – Khutbah Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Agung Raudhah, Langgur, Maluku Tenggara, menghadirkan pesan tajam soal kondisi bangsa. Khatib menyoroti persoalan korupsi, kesenjangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, hingga menurunnya moralitas masyarakat.

Dalam khutbahnya, Dr. H. Arifin Difinubun, M.Kes.I menegaskan bahwa semangat Idul Adha harus dimaknai lebih dari sekadar penyembelihan hewan kurban.

“Qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi pelajaran besar tentang penyucian hati dan penghambaan kepada Allah,” tegasnya di hadapan jamaah Rabu (27/5).

Menurutnya, Indonesia saat ini tengah menghadapi ujian serius berupa ketidakadilan sosial, korupsi yang terus mencederai kepercayaan publik, hingga lunturnya integritas dalam kehidupan berbangsa.

“Kita masih menyaksikan berita tentang korupsi yang merusak amanah, melemahkan keadilan, serta menggerogoti kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kesenjangan sosial yang masih nyata, ketika sebagian kecil hidup dalam kemewahan, sementara sebagian masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Tak hanya itu, khatib mengingatkan bahaya individualisme dan hilangnya empati sosial yang dinilai semakin menguat.

“Banyak orang ingin menikmati hasil, tetapi enggan menjalani proses pengorbanan,” katanya.

Dalam khutbahnya, Arifin mengangkat kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail sebagai simbol keteguhan iman, pengorbanan, dan keikhlasan.

Ia menyebut setiap manusia memiliki “Ismail” dalam kehidupannya masing-masing—sesuatu yang sangat dicintai, seperti harta, jabatan, ego, atau popularitas—yang terkadang justru menjauhkan dari nilai spiritual.

“Idul Adha mengajarkan bahwa seseorang harus siap mengorbankan apa pun yang menjauhkan dirinya dari Allah,” tuturnya.

Khutbah juga menyoroti fenomena penyalahgunaan kekuasaan yang disebut sebagai bentuk “Namrud modern”.

“Ada kekuasaan yang digunakan untuk menindas, ada uang yang diperlakukan seperti Tuhan, ada hawa nafsu yang ditaati melebihi perintah Allah,” ucapnya.

Diakhir khutbah, khatib mengajak masyarakat Maluku Tenggara menjaga persatuan, memperkuat iman, serta menebarkan kasih sayang demi terciptanya daerah yang damai dan sejahtera.

“Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kemajuan materi, tetapi oleh akhlak, kejujuran, amanah, dan ketakwaan,” pungkasnya.

Khutbah bernuansa kritik sosial ini mendapat perhatian besar dari jamaah karena dinilai relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR