Capaian ini menjadikan Maluku Tenggara sebagai daerah dengan realisasi CKG tertinggi di Provinsi Maluku.
Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tenggara Muhsin Rahayaan mengatakan, program yang diluncurkan sejak Februari 2025 itu menjadi bagian dari strategi pemerintah mengubah paradigma pelayanan kesehatan, dari pengobatan menjadi pencegahan.
“Dulu orang datang ke fasilitas kesehatan ketika sakit. Sekarang kita ingin orang sehat datang untuk mencegah penyakit sebelum terlambat,” kata Muhsin dalam dialog interaktif Maluku Tenggara Menyapa di RRI Tual Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, seluruh masyarakat Maluku Tenggara berhak mendapatkan layanan ini, baik peserta BPJS Kesehatan maupun bukan.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Dinas Kesehatan menerapkan strategi jemput bola ke desa-desa, termasuk kunjungan lapangan ke wilayah nelayan dan petani yang sulit menjangkau Puskesmas.
Namun, Muhsin mengakui masih terdapat tantangan besar, terutama keterbatasan tenaga medis dan infrastruktur.
Dari 21 Puskesmas yang ada, tiga masih belum memiliki dokter. Bahkan, hanya dua Puskesmas yang memiliki dokter gigi.
“Standar nasional mengharuskan 13 jenis tenaga kesehatan di setiap Puskesmas, tetapi kita belum sepenuhnya memenuhi itu,” ungkapnya.
Meski begitu, Pemerintah Daerah telah mengangkat enam dokter melalui skema penugasan khusus daerah untuk menutup kekurangan layanan.


