Pesan itu disampaikan Wabup Charlos saat membuka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana di Balai Ohoi Rumaat, Kecamatan Kei Kecil Timur, Rabu (8/4/2026).
Menurut dia, salah satu kesalahan yang kerap terjadi saat bencana datang adalah warga panik dan kehilangan waktu untuk menyelamatkan dokumen penting yang sulit diurus ulang.
“Setiap rumah harus siapkan satu box atau satu tas berisi dokumen penting, seperti ijazah, sertifikat rumah, dan dokumen lain yang susah dicetak kembali,” ujar Charlos.
Ia menilai langkah tersebut sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir dan rawan terdampak cuaca buruk, gelombang pasang, maupun bencana lainnya.
“Kalau sewaktu-waktu harus evakuasi, jangan lagi sibuk cari berkas di rumah. Tinggal angkat satu tas, langsung jalan,” katanya.
Selain tas darurat, Charlos juga menekankan pentingnya komunikasi cepat dan akurat antara pemerintah ohoi, warga, dan instansi teknis. Ia meminta kepala ohoi lebih aktif memantau informasi cuaca dan potensi bencana dari kanal resmi, termasuk prakiraan cuaca harian.
Dalam sambutannya, ia menyoroti masih rendahnya akses dan kebiasaan aparat desa dalam memanfaatkan informasi cuaca secara digital. Padahal, menurut dia, informasi tersebut bisa menjadi alat peringatan dini yang sangat penting bagi masyarakat.
“Kalau ada potensi kenaikan air atau cuaca buruk, kepala ohoi harus cepat sampaikan ke warga supaya semua bisa waspada,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi kebencanaan harus menghasilkan manfaat nyata, bukan berhenti pada seremoni pembukaan.
Karena itu, seluruh peserta diminta mengikuti kegiatan sampai tuntas dan meneruskan materi yang diperoleh kepada masyarakat di desa masing-masing.
“Anggaran yang keluar dari daerah harus betul-betul punya manfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan itu, Pemkab Maluku Tenggara berharap masyarakat tidak hanya paham ancaman bencana, tetapi juga tahu langkah-langkah sederhana yang bisa menyelamatkan diri dan keluarga.


