Rahantoknam: Bencana Tidak Bisa Ditolak, Tapi Dampaknya Bisa Dikurangi

Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam. Foto/dok: istimewa.
LANGGUR, HARIANMALUKU.com — Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, mengingatkan masyarakat dan pemerintah desa bahwa bencana memang tidak bisa diprediksi, tetapi dampaknya bisa diminimalisasi jika semua pihak memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan yang cukup.

“Bencana itu tidak diminta-minta. Bencana datang tiba-tiba. Kita tidak bisa menolak datangnya bencana, tetapi kita bisa meminimalisir dampaknya,” kata Charlos saat membuka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana di Balai Ohoi Rumaat, Kecamatan Kei Kecil Timur, Rabu (8/4/2026).

Ia menyebut wilayah Kei Kecil Timur memiliki keindahan alam yang luar biasa, namun pada saat yang sama juga hidup berdampingan dengan berbagai ancaman alam, mulai dari cuaca ekstrem, angin kencang, gelombang pasang, angin puting beliung, hingga potensi gempa bumi dan tsunami.

Karena itu, menurut Charlos, sosialisasi kebencanaan tidak boleh dipandang sebagai rutinitas tahunan belaka. Kegiatan seperti ini, kata dia, harus menjadi ruang belajar bersama agar aparat desa dan masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.

“Ini bukan rutinitas birokrasi. Ini kegiatan penting untuk pencegahan, agar jangan sampai banyak korban ketika bencana datang,” ujarnya.

Dalam dialog bersama peserta, terungkap bahwa wilayah Kei Kecil Timur juga pernah mengalami bencana kekeringan, termasuk yang terjadi di wilayah Efafun beberapa tahun lalu. Fakta tersebut, menurut Charlos, harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Ia meminta kepala ohoi dan camat aktif menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada pemerintah kabupaten, agar penanganan dan solusi yang diambil tidak terlambat.

“Kalau tiap tahun siklusnya kekeringan, itu harus disampaikan. Supaya pemerintah bisa cari solusi bersama,” tegasnya.

Wabup juga mengajak masyarakat untuk menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup, bukan hanya reaksi sesaat ketika bencana sudah terjadi.

Menurut dia, ketangguhan daerah tidak lahir dari kepanikan, tetapi dari kebiasaan masyarakat yang sadar risiko, cepat merespons, dan saling menguatkan dalam keadaan darurat.

“Mari jadikan budaya sadar bencana sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” ajaknya.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR