Ketua Yayasan Marhaen Maluku, Mutiara Dara Utama Watubun, mengatakan pihaknya telah menyalurkan bantuan sembako kepada para pengungsi yang tersebar di beberapa titik, termasuk di Desa Mar dan Uwat.
Pernyataan itu disampaikan usai kegiatan ToT Pemberdayaan Kelompok Disabilitas 2026 di Grand Vilia Hotel Langgur, Selasa (7/4/2026).
“Untuk pengungsi yang ada, kami turunkan bantuan. Jumlah seluruhnya ada dua ton beras, lalu gula dan minyak dengan jumlah yang sama,” ungkap Mutiara.
Bantu Warga yang Mengungsi Mendadak
Menurutnya, bantuan tersebut diberikan bukan hanya untuk pengungsi akibat bentrokan terakhir, tetapi juga untuk masyarakat lain yang memang membutuhkan uluran tangan.
Ia menyebut, kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan karena banyak dari mereka harus meninggalkan rumah dalam keadaan panik, tanpa sempat membawa bekal, tabungan, atau kebutuhan pokok lainnya.
“Mereka pergi begitu saja, ada yang rumahnya terbakar, ada yang lari ke hutan, ada yang tidak sempat bawa makanan pokok. Jadi sembako itu memang sesuatu yang sederhana, tetapi sangat penting,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan pengungsi di desa-desa penampung otomatis menambah beban sosial dan ekonomi bagi warga setempat. Karena itu, bantuan harus diarahkan tidak hanya kepada korban, tetapi juga untuk memperkuat daya tahan komunitas penampung.
“Kami berharap minimal bantuan sembako itu bisa membantu dalam waktu yang cukup lumayan, dan tidak membuat beban untuk ohoi penampung menjadi terlalu berat,” jelasnya.
Mutiara mengatakan, pihaknya juga menaruh perhatian pada akses pendidikan, perlindungan, dan kesehatan bagi perempuan dan anak-anak yang berada dalam situasi rentan.
Tak hanya itu, pihak yayasan bersama Ketua DPR juga disebut sempat memfasilitasi persoalan kebutuhan dasar warga, termasuk kesulitan akses minyak tanah di Desa Mar.
“Bekerja dalam Senyap”
Mutiara mengakui, selama ini banyak aksi sosial yang dilakukan yayasan tidak dipublikasikan secara luas. Namun, untuk isu disabilitas dan kemanusiaan, ia menilai suara publik kini sangat dibutuhkan agar semakin banyak pihak ikut tergerak.
“Selama ini mungkin kami kurang publikasi karena bagi kami bekerja dalam senyap adalah bagian nyata dari cinta. Tapi untuk isu disabilitas dan kemanusiaan, sekarang sudah tidak boleh diam,” tegasnya.


