Dari Valentine hingga ToT Disabilitas, Yayasan Marhaen Maluku Bergerak Senyap Bantu Anak Berkebutuhan Khusus

Suasana lelang hasil karya Anak-anak Panti Asuhan ABK Bhakti Luhur Loon di Aula Grand Vilia Hotel Langgur Selasa (7/4). Foto/dok: istimewa.
LANGGUR, HARIANMALUKU.com — Di balik pelaksanaan Training of Trainers (ToT) Pemberdayaan Kelompok Disabilitas 2026, tersimpan perjalanan panjang gerakan sosial yang dilakukan Yayasan Marhaen Maluku sejak awal tahun.

Ketua Yayasan Marhaen Maluku, Mutiara Dara Utama Watubun, mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan bertema “Berbagi Kasih, Merangkai Cinta” itu telah dimulai sejak momen Valentine, dan berpuncak pada pelaksanaan ToT di Grand Vilia Hotel Langgur, Selasa (7/4/2026).

Menurut Mutiara, tema tersebut dipilih karena Yayasan Marhaen Maluku ingin menghadirkan kepedulian yang nyata bagi anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya kelompok disabilitas intelektual.

“Sejak 2023, isu yang selalu kami ambil adalah soal anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya disabilitas intelektual,” katanya.

Bukan Sekadar Kunjungan, Tapi Pemberdayaan

Ia menegaskan, pendekatan yang dilakukan yayasan bukan hanya sebatas kunjungan sosial atau pemberian bantuan, tetapi juga pemberdayaan agar penyandang disabilitas mampu berkembang dan mandiri.

Melalui ToT ini, para peserta dilatih agar nantinya dapat menjadi penggerak dan pelatih di lingkungan masing-masing, sekaligus mendampingi teman-teman disabilitas untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak disabilitas juga menunjukkan kemampuan mereka membuat aksesori dan kerajinan tangan yang dapat dijual.

Menariknya, hasil karya itu tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dilelang, dan hasilnya dikembalikan untuk mendukung kebutuhan mereka.

“Mereka bisa membuat karya, menjualnya, bahkan menghitung modalnya sendiri. Itu sesuatu yang sangat membanggakan,” ujar Mutiara.

Semua Unsur Dilibatkan

Mutiara menilai, persoalan disabilitas tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, dalam kegiatan ini, yayasan melibatkan berbagai unsur strategis, mulai dari pemerintah, DPR, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, hingga media.

Baginya, pelibatan seluruh stakeholder penting agar lahir kesadaran kolektif bahwa penyandang disabilitas adalah bagian utuh dari masyarakat yang memiliki hak yang sama.

“Maksudnya cuma satu, agar kita semua berpikir sama. Kita harus punya mindset yang sama bahwa setiap anak berkebutuhan khusus punya hak hidup, hak pendidikan, dan hak kesehatan,” tegasnya.

Harap Maluku Lebih Peduli

Mutiara juga berharap agar keberadaan Perda Disabilitas di Maluku tidak hanya berhenti sebagai dokumen hukum, tetapi benar-benar diterjemahkan dalam bentuk kebijakan dan aksi nyata di lapangan.

Ia ingin masyarakat dan pemerintah lebih terbuka, lebih peduli, dan lebih aktif memperjuangkan akses yang layak bagi penyandang disabilitas.

“Sudah tidak boleh diam. Kita harus bersuara supaya orang lain juga ikut prihatin dan peduli,” pungkasnya.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR