Oleh: Korneles Galanjinjinay
Sulit membayangkan upaya perdamaian tanpa kehadiran JK dalam sejumlah konflik besar di tanah air. Perannya dalam menyelesaikan Konflik Ambon, Konflik Poso, hingga Konflik Aceh menjadi bukti konkret kepemimpinan dan kapasitasnya sebagai mediator ulung. Tanpa intervensi dan pendekatan damai yang ia dorong, bukan tidak mungkin daerah-daerah tersebut masih terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan dampak sosial yang lebih luas.
Sebagai anak Maluku, kebanggaan terhadap sosok JK menjadi hal yang wajar. Perdamaian yang kini dirasakan di Maluku tidak bisa dilepaskan dari kontribusinya dalam membangun dialog dan rekonsiliasi. Apa yang dicapai hari ini adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan keberanian, keteguhan, dan komitmen terhadap kemanusiaan.
Karena itu, penting untuk memahami secara utuh setiap pernyataan maupun ceramah JK dalam konteks yang tepat. Jangan sampai narasi yang disampaikan dipolitisasi tanpa melihat substansi dan latar belakang pengalaman empiris yang ia miliki. Apa yang disampaikan JK sejatinya berangkat dari realitas sosial dan pelajaran berharga dari konflik berbasis SARA yang pernah terjadi, khususnya di Ambon dan Poso.
Menjaga warisan perdamaian bukan hanya tanggung jawab satu tokoh, melainkan kewajiban seluruh anak bangsa. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, semangat rekonsiliasi dan persatuan seperti yang dicontohkan Jusuf Kalla harus terus dirawat dan diwariskan lintas generasi.


