Selain diserbu pengunjung, kegiatan ini juga berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat dengan total perputaran uang pelaku UMKM mencapai sekitar Rp30 juta dalam tiga hari.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Maluku Tenggara, Bin Raudha Arif Hanoeboen, mengungkapkan bahwa setiap stan mampu meraup pendapatan rata-rata Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari.
“Alhamdulillah, dari hari pertama sampai penutupan, stan tidak pernah sepi. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat sangat luar biasa,” ujar Bin Raudha dalam laporan penutupannya di Lapangan Apel Dinas Pendidikan.
Sebanyak 20 stan turut ambil bagian, termasuk perwakilan kecamatan, PKK, sekolah, serta dukungan sponsor seperti BPJS, Yamaha, Honda, Telkomsel, dan layanan perpustakaan keliling.
Tak hanya menjadi ajang hiburan, festival ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Siswa dari tingkat TK hingga SMP dijadwalkan mengunjungi stan untuk belajar langsung di luar kelas.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata,” kata Bin Raudha.
Hanoeboen menegaskan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi ruang tumbuh kreativitas sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Menurutnya, potensi guru dan siswa di Maluku Tenggara sangat besar dan perlu terus difasilitasi melalui kegiatan serupa.
“Ini bukan sekadar festival, tetapi bagian dari upaya membentuk karakter, kreativitas, dan kemandirian anak-anak kita,” tegasnya.
Bin Raudha juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama para guru yang dinilai bekerja secara mandiri tanpa melibatkan pihak ketiga dalam penyelenggaraan kegiatan.
Festival Hardiknas 2026 ini mengusung tema nasional “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata di daerah.


