Tokoh Maluku di Jakarta: Kapolda Turun ke Tual, Gubernur dan Pangdam Jangan Diam!

Tokoh masyarakat Maluku di Jakarta, Hi. Djamaluddin Koedoeboen. Foto/dok: Schrencut.
JAKARTA, HARIANMALUKU.com – Pernyataan tegas datang dari tokoh masyarakat Maluku di Jakarta, Hi. Djamaludin Koedoeboen (DK), menyikapi bentrokan yang mengguncang Desa Viditan, Kota Tual.

DK memberikan apresiasi tinggi kepada Irjen Pol Dadang Hartanto yang dinilai cepat dan tanggap turun langsung ke lokasi kejadian serta menjenguk Kapolres Tual pascainsiden.

“Ini bukti nyata empati dan kehadiran negara. Kapolda tidak hanya memantau dari jauh, tapi datang melihat langsung kondisi masyarakat,” tegas Djamaludin, Rabu (25/2/2026).

Namun, secara terbuka DK mendorong agar langkah tersebut juga diikuti oleh pimpinan daerah dan unsur Forkopimda lainnya. Ia menyebut nama Hendrik Lewerissa, Pangdam dari Kodam XV/Pattimura, hingga Kajati Maluku agar hadir langsung di tengah masyarakat Tual dan Maluku Tenggara.

“Rakyat butuh kehadiran pemimpinnya. Jangan hanya menunggu laporan. Datang, lihat, dan rasakan langsung denyut masyarakat,” ujarnya lantang.
Jangan Terprovokasi, Ini Bulan Ramadan!

Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, Djamaludin juga menyampaikan imbauan keras kepada warga Desa Viditan dan sekitarnya agar tidak terpancing provokasi.

“Jangan mau diadu domba. Jangan terhasut pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini bulan suci, seharusnya kita menunjukkan kasih sayang dan pengendalian diri,” katanya.

Ia mengaku sangat menyayangkan aksi pembakaran, penyerangan rumah warga, hingga jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda. Menurutnya, tindakan tersebut mencederai nilai persaudaraan orang Kei yang selama ini dikenal kuat memegang adat dan solidaritas.

“Kita Harus Malu Kalau Tak Bisa Jaga Damai”

Dalam pernyataan yang menyentuh, Djamaludin mengatakan sebagai umat beragama, masyarakat harus mampu menunjukkan kedewasaan, apalagi di tengah keberagaman.

“Kita harus malu kalau di bulan Ramadan justru tak mampu menjaga damai, sementara saudara-saudara kita yang berbeda agama hidup berdampingan dengan kita,” ucapnya.

Koedoeboen meyakini nilai adat Kei dan ikatan persaudaraan yang kuat bisa menjadi kunci meredam konflik. Karena itu, ia mendorong tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan untuk segera duduk bersama mencari solusi.

“Kedepankan kepala dingin, bukan emosi. Jangan ego yang bicara. Kota Tual adalah Kota Adat dan Kota Maren. Filosofi itu jangan hanya jadi slogan,” tegasnya.

Djamaludin optimistis, jika semua pihak bergerak bersama, konflik bisa diurai dan Kota Tual kembali menjadi kota yang aman, damai, dan membanggakan.
“Negara harus hadir. Pemimpin harus terlihat. Dan masyarakat harus bersatu,” pungkasnya.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR