Dalam rapat yang turut dihadiri Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam, pimpinan RSUD Karel Sadsuitubun Langgur dan RSUD Pratama Elat itu, Muhsin meminta seluruh persiapan teknis diperjelas sebelum kegiatan dilaksanakan.
Ia menyoroti masih terbatasnya dokter spesialis mata di Maluku Tenggara. Saat ini, dokter mata yang tersedia hanya bersifat part time dari Ambon dan datang sebulan sekali.
Muhsin juga meminta kepastian soal perlengkapan operasi, termasuk ketersediaan alat, teknisi, dan cadangan peralatan agar tidak terjadi gangguan saat tindakan medis berlangsung.
Selain itu, ia menekankan agar operasi tidak dilakukan hingga larut malam seperti pengalaman sebelumnya.
“Dokter juga manusia. Jangan sampai kelelahan dan berdampak pada pelayanan,” ujarnya.
Persoalan mobilisasi pasien dari desa ke lokasi operasi juga menjadi perhatian. Rahajaan meminta pembagian kuota yang jelas antara wilayah Kei Besar dan Kei Kecil agar puskesmas dapat mengatur pengiriman pasien dengan baik.
Terkait kemungkinan biaya administrasi, Muhsin meminta penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.
Rahajaan berharap pembagian tanggung jawab, termasuk soal pembiayaan seremonial, disepakati sejak awal agar tidak membebani pemerintah daerah.
“Kami siap mendukung penuh, yang penting semua jelas dan transparan,” tegasnya.


