Kepsek SMA Negeri 42 Malteng Tekankan Bijak Bermedia Sosial bagi Siswa


Kepala Sekolah SMA Negeri 42 Maluku Tengah, Yance Loupatty. Foto (ebbyshpla)

SAPARUA, HARIANMALUKU.COM - Kepala Sekolah SMA Negeri 42 Maluku Tengah, Yance Loupatty, menilai maraknya tawuran dan bullying di lingkungan sekolah tidak terlepas dari pengaruh media sosial, pergaulan remaja, serta lingkungan sekitar yang kurang kondusif.

Yance mengatakan, salah satu pemicu utama tawuran adalah kesalahpahaman dalam menyerap informasi yang beredar di media sosial. Informasi yang seharusnya bersifat biasa kerap dibesar-besarkan, dipelintir, bahkan dipanaskan sehingga memicu konflik antarkelompok siswa.

“Masalah pertemanan dan dinamika remaja sering kali diperkeruh oleh pesan-pesan di media sosial. Akhirnya muncul perbedaan pemahaman yang berujung pada konflik,” kata Yance, saat ditemui di ruangannya, Jumat (9/1/26).

Selain pengaruh media sosial, ia juga menyoroti keberadaan siswa dari sekolah lain yang sering membolos dan berkeliaran di sekitar lingkungan sekolah. Kondisi tersebut dinilai turut memicu gesekan dan persoalan di kalangan pelajar.

Terkait bullying, Yance menjelaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pencegahan, di antaranya melalui sosialisasi pencegahan bullying bersama Polsek Saparua. Berkat langkah tersebut, kasus bullying di SMA Negeri 42 Maluku Tengah relatif jarang terjadi.

“Kalaupun ada, biasanya muncul dalam bentuk candaan. Namun, jika dilihat secara formal, candaan dengan suara keras atau istilah tertentu tetap bisa dikategorikan sebagai bullying verbal,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap sekolah telah memiliki tim pencegahan dan penanggulangan kekerasan. Apabila terjadi pelanggaran, sekolah akan menindaklanjuti melalui wali kelas, guru bimbingan konseling (BK), serta melibatkan pengurus OSIS untuk menjaga situasi tetap kondusif. Untuk kasus yang dinilai serius, orang tua siswa akan dipanggil guna dilakukan pembinaan bersama.

Yance juga mengimbau para siswa, khususnya siswa laki-laki yang masih mendominasi kasus kekerasan di sekolah, agar mampu menyalurkan potensi fisik dan kemampuan diri ke arah yang lebih positif. Menurutnya, kegiatan olahraga, atletik, dan pembinaan lainnya dapat menjadi wadah yang tepat.

“Kalau fisik dan mental terbentuk dengan baik, peluang setelah lulus SMA juga akan lebih terbuka, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun mengikuti seleksi TNI dan Polri,” kata dia. 

Ia mengingatkan bahwa keterlibatan dalam tindak pidana akan menjadi catatan buruk yang dapat menghambat masa depan siswa.

Sementara itu, kepada para siswi perempuan, Yance mengingatkan pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. 

Ia menilai, persoalan pribadi atau konflik pertemanan yang diunggah ke media sosial justru sering memperluas masalah dan memicu konflik baru.

Selain membahas isu tawuran dan bullying, Yance juga mengungkapkan kendala dalam proses pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP). Salah satu kendala utama adalah jarak antara sekolah dengan bank penyalur yang cukup jauh, serta tahapan administrasi yang harus dilalui sebelum dana dapat dicairkan.

“Prosesnya dimulai dari aktivasi rekening hingga pencairan. Siswa harus bolak-balik ke bank, dan ini tentu menguras waktu, tenaga, serta biaya transportasi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada tahun sebelumnya terdapat sekitar 106 siswa penerima PIP di SMA Negeri 42 Maluku Tengah. Proses pencairan yang seharusnya berakhir pada 31 Desember terpaksa diperpanjang hingga 31 Januari karena keterlambatan penerbitan surat keputusan penerima.

Yance menegaskan bahwa penetapan penerima PIP sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah pusat, sementara pihak sekolah hanya membantu proses administrasi dan sosialisasi kepada orang tua. Dana PIP diterima langsung oleh siswa tanpa potongan dari sekolah.

“Kami selalu mengingatkan orang tua agar dana PIP digunakan sesuai peruntukannya, yaitu untuk menunjang kebutuhan pendidikan anak,” kata Yance.

Ia berharap, sinergi antara sekolah, orang tua, dan siswa dapat terus diperkuat, baik dalam mencegah kekerasan di lingkungan sekolah maupun dalam memastikan bantuan pendidikan dimanfaatkan secara tepat. (*)

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR