FABEM-MASKER PRAGI Apresiasi Komitmen Prabowo Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Ketahanan Pangan


JAKARTA, HARIANMALUKU.com – Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa (FABEM-SM) bersama Masyarakat Sipil Kritis Pengawal Prabowo Gibran (MASKER PRAGI) mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan nasional.

DPP FABEM dan DPP MASKER PRAGI menilai kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

Wakil Ketua Umum DPP FABEM sekaligus Ketua Umum DPP MASKER PRAGI, Tody Ardiansyah Prabu, S.H., mengatakan penguatan ekonomi kerakyatan harus diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM, koperasi, sektor pertanian, serta perikanan.

“Pembangunan ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan nasional, tetapi harus memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat melalui tata kelola yang baik, meritokrasi, dan penguatan sumber daya manusia unggul,” ujar Tody dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, ketahanan pangan nasional tidak dapat hanya bergantung pada sektor pertanian. Pemerintah juga perlu memperkuat desa nelayan sebagai bagian dari strategi pangan nasional dengan meningkatkan infrastruktur, akses pembiayaan, sarana produksi, serta pemasaran hasil perikanan.

FABEM dan MASKER PRAGI juga mendorong pengembangan desa komoditas yang mampu melahirkan eksportir berkelas dunia. Menurut mereka, optimalisasi potensi pertanian, kelautan, dan perikanan harus menjadi bagian dari transformasi ekonomi nasional.

Dorong Perlindungan Lahan Pertanian

Dalam upaya menjaga ketahanan pangan, FABEM dan MASKER PRAGI menyoroti pentingnya perlindungan Lahan Sawah Dilindungi (LSD), pengendalian alih fungsi lahan, serta sinkronisasi kebijakan tata ruang bersama Kementerian ATR/BPN.

Mereka menilai perlindungan lahan pertanian strategis menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Sebelumnya, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyampaikan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 554 ribu hektare lahan sawah akibat alih fungsi lahan pada periode 2019–2024 yang berubah menjadi kawasan industri maupun perumahan.

FABEM dan MASKER PRAGI menilai kondisi tersebut menjadi perhatian serius agar kebijakan pembangunan tidak mengorbankan sektor pangan nasional.

Kolaborasi Jadi Kunci Swasembada Pangan

Sekjen DPP MASKER PRAGI, Dr. (c) Muliansyah Abdurrahman, S.Sos., M.Si., menegaskan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

Menurutnya, perlindungan terhadap masyarakat adat serta penguatan potensi daerah juga harus menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional.

Sementara itu, Ketua DPW MASKER PRAGI Sumatera Utara, Rinno Hadinata, S.Sos., menyatakan dukungan terhadap berbagai program pemerintah yang bertujuan memperkuat ekonomi rakyat dan kemandirian pangan.

FABEM dan MASKER PRAGI berharap kebijakan pemerintah terus dijalankan secara konsisten dengan melibatkan petani, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, serta masyarakat desa sebagai aktor utama pembangunan.

Menuju Indonesia sebagai Mercusuar Pangan Dunia

Dalam refleksi kritisnya, Tody A. Prabu menegaskan bahwa kedaulatan pangan bukan hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut keadilan distribusi, perlindungan petani, serta akses masyarakat terhadap pangan bergizi.

Menurutnya, Indonesia perlu melakukan revolusi tata kelola pangan dengan memperkuat koperasi, memperbaiki sistem tata niaga, serta meningkatkan nilai tambah produk pangan.

“Indonesia harus keluar dari ketergantungan komoditas mentah dan mulai menjadi eksportir produk pangan olahan, produk organik tersertifikasi, serta pangan berbasis teknologi ramah lingkungan,” katanya.

FABEM dan MASKER PRAGI optimistis visi Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan melalui penguatan sektor pertanian, perikanan, UMKM, koperasi, serta pembangunan desa yang berkelanjutan.

“Jika seluruh elemen bangsa bergerak bersama, Indonesia tidak hanya menjadi lumbung pangan dunia, tetapi juga dapat menjadi mercusuar peradaban pangan global,” pungkasnya.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR