HUT Pattimura ke-209 Hanya Syukuran, Warga Saparua Ramai Protes di Media Sosial

 


HARIANMALUKU.COM, AMBON – Polemik terkait perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kapitan Pattimura ke-209 kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Maluku, khususnya warga Saparua.

Pasalnya, perayaan HUT Pattimura yang biasanya berlangsung meriah dengan tradisi pembakaran api obor, cakalele keliling negeri sambil membawa api, hingga dilanjutkan upacara keesokan harinya, disebut tidak lagi dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, perayaan HUT Pattimura ke-209 dikabarkan hanya digelar dalam bentuk syukuran dan upacara sederhana.

Informasi yang beredar menyebutkan, keputusan tersebut diambil karena adanya kebijakan efisiensi anggaran.

Namun alasan tersebut menuai penolakan dari sejumlah masyarakat, terutama warga Saparua, yang menilai perayaan Pattimura merupakan agenda sakral dan tidak seharusnya dikurangi.

Reaksi keras pun bermunculan di media sosial, terutama Facebook. Sejumlah akun mencurahkan kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Kabupaten.

Salah satu akun Facebook, Maya Hehanussa, mengungkapkan bahwa beberapa hari terakhir dirinya mendengar kabar simpang siur terkait perayaan Pattimura yang akan dilakukan secara sangat sederhana, bahkan ada informasi bahwa perayaan tersebut bisa saja tidak dilaksanakan.

Ia menyayangkan apabila perayaan hanya dilakukan dalam bentuk upacara lapangan tanpa adanya pawai atau arak-arakan obor, yang selama ini menjadi tradisi tahunan.

“Terus terang ini sangat disayangkan. Karena Hari Pattimura bukan sekadar kegiatan seremonial biasa, tapi peringatan yang sakral, terutama bagi katong orang Lease,” tulisnya.

Maya juga menyinggung bahwa pada masa pandemi Covid-19 hingga saat terjadi kerusuhan besar sekalipun, perayaan Pattimura tetap digelar dengan penuh semangat.

Menurutnya, alasan keterbatasan anggaran sangat tidak masuk akal dan dianggap merendahkan harga diri masyarakat.

Selain Maya, akun Facebook Jane S Souhoka turut menyampaikan kekecewaannya.

“Sio sah, kabar yang datang dari kemarin mengenai Obor Pattimura ni bikin patah semangat 45 ale. Pertama kali terjadi di bumi Saparua ini,” tulis Jane.

Nada protes lebih keras disampaikan akun Facebook Leo Maelissa Saparua, yang mempertanyakan posisi Pattimura sebagai pahlawan nasional.

“Pahlawan Pattimura nih antua termasuk pahlawan nasional ka bukan?” tulisnya dengan nada kesal.

Komentar pedas lainnya datang dari akun Facebook Sheylan Fenezia, yang mengingatkan agar tradisi obor Pattimura tidak dilakukan sembarangan karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat.

Ia bahkan menyinggung pengalaman masa lalu ketika obor induk tidak bisa menyala sampai akhirnya dibawa oleh keturunan Haria.

“Jadi jang coba-coba bikin obor Pattimura itu sambarang,” tulis Sheylan.

Meski demikian, tidak semua tanggapan bernada negatif. Salah satu akun Facebook Henny TL justru menyatakan dukungan terhadap pemerintah jika keputusan itu dilakukan demi mencegah konflik.

“Pemerintah ambil alih juga betul supaya seng ada bakumalawang gara-gara obor,” tulisnya.

Hingga kini, polemik terkait bentuk perayaan HUT Pattimura ke-209 masih terus menjadi sorotan masyarakat dan ramai diperbincangkan di ruang publik maupun media sosial.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR