Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Victor Emmanuel Buditovi Empar, saat dialog publik di RRI Tual, Senin (18/5/2026).
“Januari sampai 30 April kita mencatat sekitar 743 wisatawan asing. Ini dalam kondisi low season, jadi ada kenaikan meski belum signifikan,” katanya.
Menurutnya, industri pariwisata memiliki empat siklus kunjungan, yakni low season, normal season, high season, dan peak season. Untuk Maluku Tenggara, puncak kunjungan biasanya terjadi pada September hingga Desember.
Ia mengakui konflik geopolitik di Timur Tengah sempat memengaruhi arus wisatawan, khususnya dari Eropa yang banyak menggunakan jalur transit kawasan tersebut.
“Biasanya wisatawan Eropa transit di Timur Tengah. Saat ada gangguan, tentu berdampak terhadap mobilitas mereka,” jelasnya.
Meski demikian, ia optimistis tren kunjungan akan meningkat pada triwulan berikutnya, seiring normalisasi jalur penerbangan dan promosi wisata yang terus diperkuat.
Strategi promosi, kata Buditovi, kini diarahkan secara lebih terukur melalui pendekatan segmentasi pasar.
Pemerintah daerah menargetkan wisatawan domestik maupun mancanegara dengan strategi digital, kerja sama lintas sektor, hingga pemanfaatan jejaring promosi nasional dan internasional.
Ia bahkan membandingkan positioning Kepulauan Kei dengan destinasi besar lainnya.
“Kalau Raja Ampat kuat di wisata bawah laut, maka Kei adalah surga pantai dunia,” ujarnya.
Selain itu, ia menyebut peluang kerja sama internasional seperti rencana konektivitas Langgur-Darwin dan Langgur-Labuan Bajo berpotensi menjadi game changer bagi pariwisata daerah.
Namun Budi Tovi menegaskan Maluku Tenggara tidak mengejar wisata massal.
“Kita tidak menuju mass tourism, tetapi quality tourism. Ekowisata tetap harus dijaga,” katanya.


