Pernyataan itu disampaikan saat membuka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Rawan Bencana di Balai Ohoi Rumaat, Kecamatan Kei Kecil Timur, Rabu (8/4/2026).
Dalam forum itu, Charlos Viali menegaskan bahwa kepala ohoi harus selalu berada di tengah masyarakat, terutama karena merekalah pihak pertama yang akan dicari warga saat situasi darurat terjadi.
“Kalau bencana datang, masyarakat tidak cari Bupati atau Wakil Bupati dulu. Mereka cari Kepala Ohoi,” katanya.
Ia mengaku prihatin jika masih ada kepala desa yang memilih menjauh dari desa hanya karena takut menghadapi banyak permintaan dan keluhan masyarakat.
“Jangan karena takut masyarakat datang minta bantuan lalu memilih tinggal di kota. Itu bukan sikap seorang pemimpin,” ujarnya tegas.
Menurut dia, kehadiran kepala ohoi di desa merupakan bentuk nyata pelayanan publik. Jika kepala ohoi tidak berada di tempat, maka minimal sekretaris desa harus tersedia. Namun, ia menegaskan, yang paling ideal tetap kepala ohoi sendiri yang siaga di lapangan.
“Kalau kepala ohoi tidak ada, masyarakat mau cari siapa lagi? Negara hadir di desa salah satunya lewat kepala ohoi,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Charlos juga mengingatkan bahwa penanganan bencana sangat bergantung pada kecepatan koordinasi di level paling bawah. Karena itu, kepala ohoi tidak boleh pasif, apalagi absen dari wilayah tugasnya sendiri.
Selain soal disiplin kehadiran, Wabup juga menekankan pentingnya pemahaman mitigasi bencana bagi para aparat desa. Ia meminta seluruh peserta tidak sekadar hadir dalam pembukaan, tetapi mengikuti seluruh rangkaian kegiatan agar mampu menularkan pengetahuan itu kepada masyarakat.
“Jangan pulang dulu selesai pembukaan. Ilmu yang didapat hari ini harus dibawa pulang dan disampaikan lagi ke warga,” katanya.
Ia berharap, dari kegiatan tersebut lahir aparatur desa yang lebih sigap, lebih bertanggung jawab, dan benar-benar menjadi pelindung pertama bagi masyarakat ketika ancaman bencana datang.


