Acara peletakan batu pertama dilakukan pada Senin (20/4/2026), dalam rangka mempersiapkan kawasan tersebut sebagai destinasi Wisata Religi di Maluku Tenggara.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah Tokoh Gereja dan Pejabat Daerah, di antaranya Uskup Agung Makassar, Uskup Diosis Amboina Mgr. Senno Ngutra, Uskup Manado, Vikaris Episkopal Wilayah Kei Kecil dan Kota Tual, Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun, Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam, Ketua DPRD Maluku Tenggara Stepanus Layanan, serta jajaran Pastor dan umat Kwasi Paroki setempat.
Usai prosesi peletakan batu pertama, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman 10 pohon kelapa di area pembangunan gereja sebagai simbol harapan dan pertumbuhan iman umat.
Dalam sambutannya, Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun menegaskan komitmen Pemerintah Daerah dalam memperkuat pembangunan rumah ibadah lintas agama sebagai fondasi utama menjaga harmoni kehidupan beragama di Bumi Larvul Ngabal.
“Selama saya memimpin, saya selalu mendorong pembangunan rumah Tuhan, baik Gereja maupun Masjid. Karena saya percaya daerah ini akan diberkati jika kita membuka hati untuk semua,” ujar Bupati.
Lebih jauh, Bupati menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur keagamaan, tetapi juga pengembangan potensi wisata yang dimiliki Maluku Tenggara.
Ia menyebut kawasan Pasir Panjang sebagai “Surga Tersembunyi” dengan keindahan pasir putih yang halus dan panorama alam yang memikat, sehingga layak menjadi destinasi unggulan daerah.
“Kalau datang ke sini, jangan hanya ke Gereja, tapi juga ke Pasir Panjang. Ini surga dunia yang Tuhan berikan untuk kita,” ungkapnya.
Selain itu, Bupati juga mendorong penguatan Wisata Religi berbasis sejarah melalui pengembangan Museum Mgr. Yohanes Arts sebagai pusat edukasi dan ziarah rohani yang dapat menarik wisatawan sekaligus generasi muda.
Menurutnya, sinergi antara pembangunan rumah ibadah, pelestarian nilai sejarah, dan pengembangan pariwisata akan menjadi kekuatan baru bagi Maluku Tenggara ke depan.
Hanubun juga menegaskan pentingnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang dalam membangun daerah.
“Perbedaan jangan jadi penghalang. Kita tinggalkan sekat-sekat itu, kita bersatu membangun Maluku Tenggara,” tegasnya.
Acara kemudian ditutup dengan jamuan makan siang bersama yang berlangsung khidmat dengan harapan agar pembangunan Gereja Santa Maria Goretti Rumadian menjadi simbol persatuan, toleransi, dan berkat bagi seluruh masyarakat Maluku Tenggara.


