Penegasan itu disampaikan saat membuka Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2027 di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Senin (23/2/2026).
“RKPD bukan sekadar dokumen administratif. Harus berbasis data yang akurat, perkembangan ilmu pengetahuan, dan logika teknis yang kuat. Tapi juga harus menjawab amanat dan harapan masyarakat,” ujar Carlos Viali Rahantoknam.
Viali mengibaratkan perencanaan pembangunan sebagai sebuah mobil. Secara teknokratis, kata dia, adalah mesin yang harus kuat dan berbasis data. Sementara secara politis adalah arah kemudi yang ditentukan oleh visi dan misi kepala daerah.
“Mesinnya harus kuat, datanya harus kuat. Tapi arah juga harus jelas. Dua-duanya penting dan tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.
Lima Fokus Prioritas 2027
Dalam forum tersebut, Rahantoknam memaparkan lima fokus utama pembangunan Kabupaten Maluku Tenggara pada 2027.
Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemerintah daerah akan memperkuat sektor pendidikan dan kesehatan sebagai dua pilar utama pembentuk kualitas manusia. Ia menekankan pemerataan akses pendidikan dari kota hingga desa, termasuk wilayah kepulauan.
“Jangan hanya fokus di kota. Dari pesisir sampai pulau-pulau harus setara,” katanya.
Penanganan stunting juga menjadi perhatian serius. Ia menegaskan persoalan tersebut bukan semata tanggung jawab dinas kesehatan, melainkan seluruh perangkat daerah.
Kedua, pengentasan kemiskinan. Rahantoknam mengungkapkan angka kemiskinan di Maluku Tenggara masih berada di kisaran 21,16 persen, meski telah mengalami penurunan tipis.
“Turunnya hanya nol koma sekian, bukan satu persen. Ini harus jadi fokus bersama,” ujarnya.
Penanganan kemiskinan, lanjut dia, harus berbasis data, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Bantuan sosial harus dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi agar masyarakat tidak sekadar menerima, tetapi mampu mandiri.
Ketiga, penanganan pengangguran dan pembukaan lapangan kerja. Pemerintah akan mendorong pelatihan vokasi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja, sekaligus menciptakan ekosistem investasi yang kondusif.
Di tengah keterbatasan fiskal, ia mengakui tantangan pembiayaan program cukup berat. Namun pemerintah daerah akan aktif menjemput peluang investasi dan mempermudah perizinan usaha, termasuk mendampingi UMKM. Potensi kelautan, perikanan, dan pariwisata disebut sebagai mesin penggerak ekonomi yang harus dimaksimalkan.
Keempat, peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat. Ia menyoroti kenaikan inflasi pada 2025 yang menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi. Namun pertumbuhan tersebut harus dianalisis lebih dalam.
“Apakah kenaikan harga cabai dan bawang dinikmati petani atau justru di level tengkulak? Ini yang harus kita jawab,” katanya.
Pemerintah daerah diminta memastikan harga yang adil bagi petani dan nelayan agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Kelima, pembangunan infrastruktur dan konektivitas. Rahantoknam menegaskan infrastruktur bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Jangan sampai jalan dan jembatan hanya jadi lukisan indah. Ujungnya harus kesejahteraan, masyarakat harus mampu membeli dan hidup layak,” tegasnya.
Dengan keterbatasan anggaran, ia meminta perangkat daerah selektif dalam mengusulkan proyek, serta memastikan infrastruktur yang dibangun berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi.
Soroti Kinerja dan Niat ASN
Selain aspek teknokratis dan politis, Rahantoknam menambahkan satu aspek penting, yakni psikologis—niat dan kerja keras aparatur sipil negara (ASN).
Bagi Rahantoknam, capaian indikator pembangunan 2025 yang dinilai belum optimal. Dari 62 indikator, hanya 22 yang tercapai.
“Kesalahannya di mana? Jangan sampai rencana sudah bagus, tapi di eksekusi loyo. Dibutuhkan niat tulus dan kerja keras,” ujarnya.
Ia juga menyinggung persoalan tunjangan kinerja (TPP) dan insentif ASN di tengah kondisi efisiensi anggaran. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan pegawai harus sejalan dengan peningkatan kinerja.
“Kalau nanti TPP ditambah, apakah kinerja juga bertambah? Itu pertanyaan bagi kita semua,” katanya.
Menutup sambutannya, Rahantoknam mengajak seluruh peserta forum meninggalkan kepentingan sempit dan berpikir besar demi kemajuan daerah. Ia juga mengajak hadirin mendoakan almarhum Sekretaris Daerah yang belum tergantikan.
“Beta dan Pak Bupati hanya dua orang. Tidak kuat kalau jalan sendiri. Maluku Tenggara hebat kalau kita kerja bersama,” pungkasnya.


