Oleh: Gerry Ubra, S.Pd., CPSE
Guru SMA Negeri 1 Tual
TUAL, HARIANMALUKU.com - Pendidikan nasional tidak lagi dapat dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan di ruang kelas. Di tengah tantangan abad ke-21—ketimpangan kualitas sumber daya manusia, krisis kesehatan remaja, hingga tuntutan kompetensi global—pendidikan harus diposisikan sebagai ekosistem utuh yang memperhatikan aspek kognitif, afektif, sosial, dan fisik peserta didik.
Dalam konteks ini, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penerapan tidur siang terstruktur bagi siswa SMA menjadi strategi progresif yang relevan untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka dan pembentukan Profil Pelajar Pancasila.
Fondasi Kesiapan Belajar
Pemenuhan gizi adalah prasyarat dasar keberhasilan pembelajaran. Kekurangan asupan gizi berdampak langsung pada konsentrasi, daya ingat, kestabilan emosi, dan motivasi belajar. Di jenjang SMA, siswa berada pada fase remaja akhir dengan pertumbuhan fisik cepat serta tuntutan akademik semakin kompleks. Tanpa gizi memadai, potensi mereka sulit berkembang optimal.
Program MBG mencerminkan kehadiran negara dalam menjamin keadilan pendidikan. Siswa dari latar belakang ekonomi berbeda memperoleh kesempatan setara untuk belajar dalam kondisi fisik prima. Hal ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran.
Selain itu, MBG dapat menjadi media pembelajaran kontekstual. Menu makanan bisa diintegrasikan dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), seperti tema gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, atau edukasi kesehatan remaja. Dengan demikian, program ini tidak hanya memberi manfaat biologis, tetapi juga memperkuat karakter dan literasi gizi.
Tidur Siang sebagai Pemulihan Kognitif
Tidur siang sering dipersepsikan sebagai kemalasan. Padahal, tidur singkat selama 20–30 menit terbukti meningkatkan fokus, kreativitas, dan stabilitas emosi. Bagi siswa yang belajar dari pagi hingga sore, tidur siang menjadi strategi pemulihan yang penting.
Kurikulum Merdeka menuntut pembelajaran mendalam dan reflektif. Model ini tidak efektif jika siswa berada dalam kondisi kelelahan mental. Dengan menyediakan ruang dan waktu tidur siang yang terstruktur, sekolah justru meningkatkan kualitas proses belajar.
Lebih jauh, kebijakan ini juga mendukung kesehatan mental remaja. Tekanan akademik dan paparan gawai kerap memicu stres serta kurang tidur malam hari. Tidur siang menjadi langkah preventif untuk menekan risiko kelelahan berlebihan, kecemasan, hingga perilaku agresif.
Investasi Jangka Panjang
MBG dan tidur siang bukan kebijakan populis, melainkan investasi strategis pembangunan sumber daya manusia. Negara yang ingin maju harus memastikan generasi mudanya tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter. Transformasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka menegaskan bahwa pembangunan manusia Indonesia dilakukan secara utuh—tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga kesejahteraan dan kemanusiaan.
Tentu implementasinya memerlukan regulasi jelas, dukungan anggaran, serta kolaborasi lintas sektor. Namun manfaat jangka panjangnya sangat besar: peningkatan kualitas belajar, penurunan kesenjangan pendidikan, dan terbentuknya generasi Pelajar Pancasila yang tangguh menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, Makan Bergizi Gratis dan tidur siang di SMA adalah wujud konkret negara dalam memerdekakan belajar sekaligus memanusiakan peserta didik.


