Gerakan ini menjadi komitmen bersama Vat-vat Evav untuk memperkuat peran pendidikan perempuan, menolak kekerasan dan diskriminasi, serta mendorong pemberdayaan perempuan berbasis nilai adat dan kearifan lokal Kei.
Ketua GEPKei, Umi Hani Nuhuyanan, dalam laporannya mengatakan bahwa gerakan ini dibentuk sebagai wadah kolaborasi yang berfokus pada penguatan pendidikan dan perspektif perempuan di Kepulauan Kei.
Menurutnya, perempuan Kei telah memiliki ruang dalam pendidikan dan kehidupan sosial, namun penguatan tersebut perlu terus didorong secara sistematis dan berkelanjutan.
“GEPKei hadir untuk menolak segala bentuk diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan terhadap perempuan, sekaligus menguatkan pendidikan karakter berbasis nilai adat dan kearifan lokal Kei,” kata Umi Hani.
Ia berharap melalui gerakan ini terbangun sinergi antara masyarakat, lembaga adat, dan pemerintah daerah dalam upaya pemberdayaan serta perlindungan perempuan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia di wilayah Kei.
Deklarasi tersebut diperkuat melalui pembacaan naskah deklarasi oleh Suster Brigita yang menegaskan komitmen kolektif tokoh-tokoh perempuan dari berbagai latar belakang untuk memperkuat kerja-kerja edukasi berbasis komunitas.
Naskah deklarasi juga telah ditandatangani sejumlah tokoh perempuan, organisasi, dan perwakilan lembaga sebagai bentuk komitmen moral dan sosial dalam memperkuat gerakan edukasi perempuan Kei.
Dalam kesempatan yang sama, pelukis dari Bengkel Sastra Nuhu Evav, Emus Larmawata, menjelaskan filosofi logo GEPKei yang sarat makna budaya Kei. Emus menyebut, simbol sasi yang dibentuk menyerupai buku melambangkan bahwa Adat Kei harus menjadi landasan dalam mendukung kemajuan pendidikan perempuan di Bumi Larvul Ngabal.
“Pena yang berbentuk seperti tombak melambangkan kekuatan intelektual sebagai senjata utama perempuan Kei. Pendidikan menjadi kekuatan agar perempuan mampu berdiri sejajar dan berkontribusi bagi daerah,” jelas Emus.
Sementara itu, Pembina GEPKei sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudah Arif Hanubun, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari diskusi panjang para aktivis perempuan yang melihat perlunya ruang bersama untuk membahas pendidikan perempuan secara khusus.
Menurut Hanoeboen, tantangan perempuan saat ini bukan lagi soal akses pendidikan, melainkan bagaimana memanfaatkan kesempatan yang sudah tersedia dengan meningkatkan kualitas, kapasitas, dan kepemimpinan perempuan.
“Gerakan edukasi perempuan ini bukan menggantikan peran pemerintah, tetapi menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas perempuan agar mampu menjadi penggerak perubahan di Tanah Kei,” ujarnya.
Bin Raudha juga menekankan pentingnya pendidikan perempuan yang tidak tercerabut dari akar budaya, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan daya saing generasi mendatang.
Sementara itu, Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Achmad Dahlan Tamher menyampaikan apresiasi atas inisiatif GEPKei yang dinilai sejalan dengan nilai adat Kei yang menempatkan perempuan sebagai sosok mulia atau lun mas.
Bupati menegaskan bahwa perempuan Kei memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan nilai budaya, sekaligus menjadi penggerak perubahan di tengah dinamika modernisasi.
“Deklarasi ini menjadi momentum untuk kembali menegaskan martabat perempuan Kei. Hentikan kekerasan terhadap perempuan dan jaga kehormatan serta nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam adat Kei,” tegasnya.
Pemerintah Daerah berharap, gerakan ini mampu membuka ruang pemikiran baru tentang peran perempuan dalam pendidikan, sosial, dan pembangunan daerah, sekaligus memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas dalam menciptakan pembangunan yang inklusif di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.
Kegiatan deklarasi ini dibuka secara simbolis oleh pelaksana tugas Sekretaris Daerah Achmad Dahlan Tamher dan dilanjutkan dengan diskusi publik yang melibatkan Pemerintah Daerah, OKP Cipayung, Mahasiswa, Pemerhati Perempuan Kei dan media. Dari forum ini diharapkan lahir gagasan dan rekomendasi konkret untuk memperkuat pendidikan dan peran strategis perempuan Kei dalam pembangunan ke depan.


