Erick: Tak Ada Kekerasan terhadap Almarhumah Veronica, Rp10 Juta Murni Santunan Duka

Erick, Pimpinan PT. Mutiara Lik. Foto/dok: Obama.
LANGGUR, HARIANMALUKU.com – Pimpinan PT Mutiara LIK, Erick, membantah keras isu yang menyebut kematian almarhumah Veronica Rahanyanat diduga akibat kekerasan di lingkungan perusahaan. Ia menegaskan, kabar tersebut tidak benar dan tidak berdasar.

Hal itu disampaikan Erick saat diwawancarai wartawan, Selasa (24/2/2026) di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Maluku Tenggara.

Menurut Erick, kronologi yang ia ketahui bermula saat para karyawan pulang ke daratan Debut pada Sabtu (14/2/2026). Seharusnya mereka kembali ke lokasi kerja pada Minggu sore menggunakan speed boat penjemput. Namun Veronica tidak ikut kembali pada Minggu.

“Selasa sore speed naik lagi untuk ambil bahan makanan dan kebutuhan perusahaan. Dia ikut naik waktu itu, dan kondisinya biasa saja,” ujar Erick.

Ia menjelaskan, pada Rabu (18/2/2026) Veronica Rahanyanat tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Pihak perusahaan menganggap hal tersebut wajar sebagaimana karyawan lain yang izin karena kondisi kesehatan.

Pada Kamis (19/2/2026) dini hari sekitar pukul 05.00 WIT, kepala perusahaan di lokasi melaporkan kepada Erick bahwa Veronica sakit keras. Karyawan lain panik dan segera meminta izin menggunakan speed untuk membawa korban ke daratan.

“Saya langsung bilang bawa cepat ke darat. Saya telepon sopir supaya siapkan mobil dari Langgur ke Debut untuk jemput dan langsung ke rumah sakit,” katanya.

Veronica kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Karel Sadsuitubun dan sempat mendapat penanganan medis berupa infus. Beberapa karyawan, termasuk keluarga dan kerabat sekampungnya, turut mendampingi di rumah sakit.

Erick mengaku baru mengetahui kabar meninggalnya Veronica Rahanyanat pada Jumat (20/2/2026) pagi. Dua rekan sekampung korban kemudian meminta izin turun ke darat untuk memastikan kabar tersebut.

Bantah Isu Kekerasan

Terkait tudingan adanya penganiayaan di perusahaan, Erick menegaskan tidak pernah terjadi kekerasan terhadap korban.

“Seng ada sama sekali. Beta sudah tanya teman sekamar dia, karyawati lain juga. Dong bilang seng ada memar-memar. Bahkan orang kampungnya sendiri yang ikut di speed bilang tidak ada tanda kekerasan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, luka pada bagian bibir korban diduga akibat digigit sendiri saat menahan rasa sakit.

“Dong bilang di speed itu dia gigit-gigit bibirnya. Mungkin karena sakit atau panas dingin. Tapi bukan karena kekerasan,” ujarnya.

Erick juga menyebut seluruh karyawan di lokasi panik dan berupaya menolong korban saat kondisinya memburuk.

Rp10 Juta Disebut Santunan, Bukan Suap

Menanggapi kabar burung bahwa uang Rp10 juta yang diberikan perusahaan merupakan uang suap, Erick menepis tudingan tersebut. Ia menegaskan uang itu adalah santunan duka untuk membantu biaya pemakaman korban.

“Saya suruh sopir antar uang santunan ke rumah duka. Orang tua almarhum terima. Ada bukti kuitansi dan dokumentasi,” katanya.

Ia bahkan sempat berbicara langsung melalui telepon dengan orang tua korban yang menyatakan menerima bantuan tersebut untuk keperluan pemakaman.

“Pada prinsipnya orang tua sudah terima. Itu bentuk kepedulian perusahaan, bukan suap,” ujarnya.

Polisi Sudah Periksa Saksi

Erick menambahkan, pihak kepolisian telah mengambil keterangan dari sejumlah saksi, termasuk dirinya, kepala perusahaan, dan sopir yang mengantar korban.

Ia memastikan perusahaan bersikap kooperatif dalam proses hukum dan siap mengikuti prosedur yang berlaku.

“Kami sudah dipanggil resmi dan memberikan keterangan. Jadi tuduhan kekerasan itu tidak benar,” tegasnya.

Sementara itu, isu yang berkembang di tengah masyarakat masih menjadi perhatian publik. Hingga kini, proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum terus berjalan untuk memastikan penyebab pasti meninggalnya almarhumah Veronica Rahanyanat.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR