Peluncuran gerakan tersebut akan ditandai dengan diskusi publik bertema “Pendidikan Perempuan Kei dalam Bingkai Budaya Lokal dan Kebijakan Daerah”. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang melibatkan pemerintah daerah, alumni organisasi kepemudaan, tokoh perempuan, pendidik, serta masyarakat umum.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudha Arif Hanoeboen, menegaskan bahwa pendidikan perempuan memiliki peran strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan daerah.
“Perempuan bukan hanya penerima manfaat pendidikan, tetapi juga aktor utama perubahan di keluarga dan masyarakat. Ketika perempuan terdidik, dampaknya akan dirasakan secara luas,” ujarnya di Langgur Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, perwakilan Alumni OKP Cipayung Plus menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan bersama atas masih adanya berbagai tantangan yang dihadapi perempuan Kei dalam mengakses pendidikan, baik dari sisi kualitas, kesempatan, maupun keberlanjutan.
Menurutnya, Gerakan Edukasi Perempuan Kei akan difokuskan pada isu-isu strategis pendidikan, termasuk peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan perempuan dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal serta arah kebijakan daerah.
Gerakan ini diharapkan menjadi titik awal sinergi jangka panjang antara pemerintah daerah dan masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan serta program pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan gender, khususnya bagi perempuan Kei.
Dengan mengusung semangat kolaborasi dan kearifan lokal, Gerakan Edukasi Perempuan Kei diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai pilar penting pembangunan pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara.


