Listrik Tak Menentu, Warga Saparua Pertanyakan Kinerja PLN

"Kantor PLN ULP Saparua, Foto/Istimewa".

SAPARUA, HARIANMALUKU.com – Warga di Kecamatan Saparua dan Saparua Timur mengeluhkan aliran listrik yang sering padam dalam sepekan terakhir. Pemadaman yang terjadi berulang, bahkan hingga berjam-jam, dianggap mengganggu aktivitas harian masyarakat, merugikan pelaku usaha kecil, serta merusak peralatan elektronik.

Sejumlah warga menyampaikan bahwa kondisi listrik yang hidup–mati tanpa jadwal menyebabkan lonjakan arus saat listrik kembali menyala. Hal itu membuat perangkat elektronik seperti televisi, kulkas, hingga komputer rusak. Selain itu, aktivitas perkantoran dan persekolahan juga ikut terganggu.

“Sejak listrik sering mati mendadak, kami justru lebih sering membeli pulsa. Tegangan tidak stabil membuat barang elektronik cepat rusak. Siapa yang mau ganti?” ujar seorang warga Saparua, kepada media, Jumat (12/12/25).

Menurut warga, pemadaman listrik yang terus berulang terkesan telah menjadi kebiasaan, sementara penjelasan PLN dinilai belum memberikan kepastian. Mereka menyebut alasan yang diberikan kerap tidak jelas, sementara pelayanan tidak kunjung membaik.

“Kalau masyarakat terlambat bayar, listrik langsung diputus. Tapi kalau PLN yang bermasalah, masyarakat hanya diberi permintaan maaf,” kata warga lainnya.

Masyarakat meminta PLN Ambon mengambil langkah serius untuk memperbaiki keandalan jaringan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, ketika kebutuhan listrik meningkat dan berbagai kegiatan besar akan diselenggarakan.

Namun, warga berharap gangguan serupa dapat diminimalisasi, terutama menjelang masa liburan Natal dan Tahun Baru.

Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa, menyebut kebutuhan listrik di wilayahnya semakin mendesak. 

Ia mengatakan keresahan warga wajar muncul karena pemadaman yang tidak terjadwal sangat mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari.

“PLN perlu memberikan klarifikasi yang jelas dan faktual. Gangguan listrik yang terjadi tentu berdampak pada banyak sektor,” kata Halid.

Ia menambahkan bahwa pemadaman tanpa perencanaan dapat berdampak pada pendapatan PLN dan menambah biaya perbaikan jaringan. 

Menurutnya, PLN perlu menjelaskan secara terbuka apakah gangguan berasal dari kerusakan mesin, faktor alam, atau kejadian lain.

Halid juga mengingatkan bahwa konsumen yang dirugikan memiliki hak untuk mendapatkan kompensasi sesuai regulasi yang berlaku. 

“Jika kerusakan alat elektronik atau kerugian lain disebabkan layanan yang tidak stabil, konsumen berhak mengajukan pengaduan melalui PLN atau BPSK,” ujarnya.

Ia berharap PLN mengambil langkah cepat agar pasokan listrik kembali stabil pada akhir tahun. 

“Kami ingin masalah ini selesai. Wilayah ini harus mendapatkan pelayanan listrik yang layak,” katanya.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala PLN ULP Saparua, Stenly Latumahina, menjelaskan bahwa gangguan listrik disebabkan oleh sejumlah faktor teknis.

Ia menyebut gangguan utama berasal dari kerusakan pada mesin MTU, tepatnya pada pulley bearing kipas radiator. Selain itu, mesin MAN mengalami trip akibat kenaikan temperatur. Gangguan jaringan turut diperparah oleh tumbangnya pohon kelapa yang mengenai kabel listrik di beberapa titik.

PLN menyatakan akan terus melakukan percepatan penanganan dan penormalan jaringan agar layanan segera kembali stabil.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR