“Melihat potensi daerah di bidang perikanan dan pariwisata, kami berupaya membuka program studi Destinasi Wisata atau Pariwisata. Ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan sektor pariwisata sebagai unggulan,” jelas Bernardus Minggu (4/10/2025).
Selain pariwisata, STIS juga menargetkan pembukaan Program Studi Kesehatan Masyarakat, karena kebutuhan tenaga di sektor kesehatan di Maluku Tenggara dan Kota Tual semakin meningkat. Namun demikian, tantangan terbesar saat ini masih pada ketersediaan sumber daya dosen.
“Saat ini kita memiliki 20 dosen, di mana 15 sudah S2. Kami sedang berupaya agar mereka bisa lanjut ke S3 dalam waktu dekat. Peningkatan kualitas tenaga pengajar menjadi prioritas kami,” ujarnya.
Bernardus juga menyampaikan bahwa STIS aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan daerah, seperti Festival Pesona Meti Kei dan Sail to Indonesia, di mana dosen dan mahasiswa turut menjadi panitia dan penggerak acara.
“Kami tidak hanya mendukung, tapi juga terlibat langsung dalam setiap event untuk mempromosikan budaya dan potensi wisata Maluku Tenggara,” katanya.
Terkait perubahan nama lembaga, Bernardus menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2007 tentang Kota Tual, STIS akan segera mengganti nomenklatur dari “STIS Tual” menjadi STIS Maluku Tenggara atau STIS Langgur, karena lokasi kampus berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara.
“Surat dari pemerintah daerah sudah kami terima, dan kami berharap proses ini cepat diselesaikan. Harapan Pak Bupati juga sama, agar STIS menjadi milik Maluku Tenggara sepenuhnya,” tegasnya.
Bernardus menutup pernyataannya dengan optimisme, bahwa perubahan ini akan memperkuat identitas STIS sebagai pusat pendidikan sosial yang maju, adaptif, dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal Kei.


