“Tidak ada orang yang kasih turun-turun kelembagaan di Ohoi Rahareng. Lima orang kader Posyandu itu tiba-tiba mengundurkan diri, saya tidak tahu alasannya apa. Saya hanya minta Sekretaris Ohoi tarik kunci Posyandu dan PAUD karena ada dasar,” kata Samsama saat dikonfirmasi, Senin (25/8/2025) di Langgur.
Samsama mengakui dirinya resmi memberhentikan Sekretaris BSO, yang dikenal dengan sapaan Mam Boy, istri almarhum Said Sarkol. Ia menyebut keputusan itu diambil langsung olehnya karena alasan politis.
“Dia lawan politik saya dulu, jadi saya yang berhentikan dia. Tidak bisa orang yang melawan lalu masih duduk di kelembagaan. Itu resmi dari saya,” tegasnya.
Selain itu, Samsama menyinggung lembaga adat yang dinilai tidak berfungsi karena jarang hadir dalam kegiatan ohoi. Ia berencana melakukan revisi kelembagaan sebagai langkah konsolidasi untuk memperkuat barisan pendukung Bupati Maluku Tenggara, Haji Thaher Hanubun, dan Wakil Bupati, Charlos Viali Rahantoknam.
Terkait struktur BSO, ia menekankan penyesuaian dilakukan sesuai Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur jumlah anggota berdasarkan jumlah penduduk. Karena penduduk Ohoi Rahareng relatif kecil, anggota BSO dikurangi dari tujuh menjadi lima orang.
Lebih lanjut, Samsama menuding Mam Boy kerap melakukan provokasi masyarakat dan menyerang dirinya serta Sekretaris Ohoi. Ia juga menolak keberadaannya di BSO dengan alasan bukan warga asli Rahareng.
“Lagi pula kau orang luar, tidak punya hak duduk di BSO. Suamimu sudah meninggal, jangan bikin gerakan yang merusak keluarga di sini,” ujar Samsama dengan nada tegas.
Sementara itu, Sekretaris Ohoi Rahareng, Muhamad Ali Sadikin Sarkol, menyoroti aset desa yang belum dikembalikan mantan Pj Kepala Ohoi, Iwan Rahareng. Menurutnya, sejumlah aset berupa mobil dan laptop hasil pengadaan harus dipertanggungjawabkan.
“Namanya aset, harus dikembalikan. Jangan menekan orang lain sementara aset yang dipakai sendiri tidak jelas statusnya,” ungkap Sadikin.
Ia juga mempertanyakan kontribusi Iwan Rahareng selama menjabat, sebab jarang terlihat terlibat dalam kegiatan ohoi meski pernah menduduki posisi strategis.
Menutup keterangannya, Samsama kembali menegaskan pergantian kader Posyandu dan PAUD dilakukan setelah upaya pendekatan kekeluargaan tidak membuahkan hasil. Karena keputusan selalu ditunda oleh keluarga ketua Posyandu, pihaknya akhirnya memutuskan mengganti kader demi kelancaran pelayanan.
“Posyandu dan PAUD tidak bisa vakum lama. Karena mereka tidak kembali aktif, saya ambil langkah tegas: ganti. Selesai,” pungkasnya.