Pasar Tradisional Ohoi Weduar tersebut dibangun melalui semangat gotong royong yang melibatkan perangkat ohoi, Linmas, dan masyarakat. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang usaha yang nyaman bagi warga untuk menjual berbagai komoditas pangan lokal.
Penjabat (Pj.) Ohoi Weduar, Merfi Somnaikubun, mengatakan pasar tersebut disediakan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat, terutama ibu-ibu yang selama ini mengandalkan hasil kebun untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Berbagai produk lokal dapat dipasarkan di tempat itu, mulai dari enbal tutuil, enbal bubuhuk, enbal gepe, sayur-sayuran, cabai, tomat, mentimun, pisang, sukun, keladi, hingga petatas.
Menurut Merfi, pasar tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Ia berharap fasilitas itu dapat dimanfaatkan bersama untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan menggerakkan ekonomi ohoi.
“Pasar ini untuk katong samua. Tanpa beda. Katong satu keluarga di Ohoi Weduar. Pemerintah hadir untuk memberikan tempat yang layak bagi Mama-Mama yang rajin berkebun,” ujarnya.
Selain menjadi tempat penjualan hasil kebun, pasar yang berada di tepi jalan utama dengan pemandangan Laut Kei Besar itu diharapkan dapat menjadi salah satu pusat ekonomi masyarakat sekaligus tempat bagi pengunjung untuk mendapatkan produk dan oleh-oleh khas Kei.
Pemerintah Ohoi Weduar mengajak masyarakat menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut secara bersama-sama agar dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Keberadaan pasar tradisional ini diharapkan membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi produk lokal, sehingga hasil kebun masyarakat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan.
Ohoi Weduar Maju, Rukun, Sejahtera untuk Semua.
Ain Ni Ain — Hidup Orang Basudara.
(RB)


