Andi Agussalim menilai Wer Warat merupakan tradisi unik yang memperlihatkan kekayaan budaya sekaligus potensi sumber daya kelautan masyarakat Kepulauan Kei.
Menurutnya, metode penangkapan ikan yang memanfaatkan tali dan daun kelapa tersebut menjadi pengalaman menarik, terutama jika dibandingkan dengan cara penangkapan ikan modern yang biasa digunakan masyarakat perkotaan.
“Kesannya sangat luar biasa dengan adanya tradisi penangkapan ikan secara tradisional ini. Biasanya kita di perkotaan menangkap ikan dengan cara modern, tetapi di sini hanya menggunakan tali dan daun-daun kelapa sudah bisa menangkap ikan,” ungkap Andi Agussalim seusai mengikuti kegiatan tersebut.
Ia mengatakan, tradisi Wer Warat menunjukkan bahwa masyarakat Maluku Tenggara memiliki kearifan lokal yang patut dijaga dan dilestarikan. Selain menjadi warisan budaya turun-temurun, kegiatan tersebut juga memperlihatkan potensi sumber daya kelautan yang dimiliki daerah itu.
Dalam kegiatan tersebut, Andi Agussalim mengaku berhasil memperoleh tiga ekor ikan. Ia juga menyebut keikutsertaannya dalam Wer Warat kali ini merupakan pengalaman kedua.
Meski demikian, ia mengaku tetap antusias dan bersedia kembali mengikuti tradisi tersebut apabila mendapat kesempatan pada pelaksanaan berikutnya.
“Luar biasa, pasti ikut lagi,” ujarnya.
Wer Warat atau Tarik Tali merupakan tradisi penangkapan ikan secara bersama-sama dengan memanfaatkan tali dan daun kelapa sebagai bagian dari metode tradisional masyarakat Kei.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda rutin Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam rangkaian Festival Pesona Meti Kei.
Melalui pelaksanaan Wer Warat, tradisi leluhur masyarakat Kei tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai bagian dari kekayaan budaya dan daya tarik wisata daerah.
Festival Pesona Meti Kei diharapkan terus menjadi ruang untuk memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus mempromosikan potensi pariwisata bahari Kabupaten Maluku Tenggara.


