Hal tersebut disampaikan Minister Counselor Departemen Ekonomi dan Perdagangan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Li Hongwei, saat menyampaikan pidato pada peluncuran kerja sama penangkapan ikan Indonesia-Tiongkok melalui skema Technical Cooperation Guidelines (TCG) di Pelabuhan Perikanan PT Samudera Indo Sejahtera, Ngadi, Kota Tual, Maluku, Kamis (24/9/2026).
Li Hongwei menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran kerja sama tersebut sekaligus mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini mendukung hubungan persahabatan dan kerja sama Indonesia-Tiongkok.
Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari Pedoman Kerja Sama Teknis Tiongkok-Indonesia tentang Promosi Perikanan Tangkap Berkelanjutan yang disaksikan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada November 2024.
“Pihak Tiongkok secara aktif melaksanakan pedoman kerja sama tersebut dan melalui seleksi yang ketat merekomendasikan kapal penangkap ikan kepada pihak Indonesia,” kata Li Hongwei.
Ia menjelaskan, kapal-kapal penangkap ikan tahap pertama telah tiba di Indonesia setelah melalui proses peninjauan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan Tiongkok dan mitra Indonesia akan membentuk perusahaan patungan serta membangun basis kegiatan di daerah.
Kerja sama itu juga diarahkan untuk mendorong pembangunan infrastruktur pendukung, seperti fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), dermaga, hingga industri pengolahan hasil perikanan.
“Hal ini diharapkan dapat membantu pengembangan Desa Nelayan Merah Putih setempat, mendorong peningkatan industri, memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, serta menyuntikkan vitalitas baru ke dalam pembangunan ekonomi setempat,” ujarnya.
Li Hongwei juga menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Menurut dia, Tiongkok memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan perikanan laut dan terus memperkuat modernisasi infrastruktur perikanan laut dalam, perlindungan sumber daya perikanan serta pengawasan terhadap aktivitas kapal.
Ia mengatakan Tiongkok menerapkan pemantauan dan pengendalian posisi kapal serta prinsip toleransi nol terhadap praktik penangkapan ikan ilegal.
“Dengan berfokus pada tujuan keselamatan, perlindungan lingkungan, keberlanjutan dan perlindungan tenaga kerja,” katanya.
Sementara itu, Li Hongwei mengapresiasi kebijakan Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi biru dan tata kelola kelautan melalui berbagai program, termasuk konservasi laut, perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati, penangkapan ikan yang tertib serta perlindungan kepentingan nelayan skala kecil.
Ia menilai kerja sama Indonesia-Tiongkok di sektor perikanan menjadi bagian penting dari hubungan strategis kedua negara.
Menurutnya, hubungan Indonesia-Tiongkok terus berkembang di bawah arahan strategis para pemimpin kedua negara, termasuk melalui peningkatan kerja sama praktis di berbagai bidang.
“Kerja sama perikanan merupakan bagian penting dari kerja sama Tiongkok-Indonesia, dan pembangunan perikanan berkelanjutan merupakan kepentingan bersama kita,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Li Hongwei menyampaikan tiga usulan untuk memperkuat pelaksanaan kerja sama perikanan kedua negara.
Pertama, memperkuat komunikasi dan koordinasi secara berkala antara kementerian terkait, termasuk KKP Indonesia dan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok.
Kedua, memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan proyek kerja sama. Menurutnya, pemerintah daerah di Maluku perlu mengarahkan perangkat daerah dan perusahaan dari kedua negara untuk membangun hubungan kerja sama yang baik serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan proyek.
Ketiga, seluruh perusahaan yang terlibat diminta menjalankan kegiatan usaha sesuai hukum dan peraturan serta memenuhi ketentuan dalam Pedoman Kerja Sama Teknis.
Li Hongwei juga mendorong perusahaan yang terlibat untuk merekrut tenaga kerja lokal sehingga manfaat kerja sama dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Secara aktif merekrut awak kapal setempat, memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat, dan mendorong pembangunan daerah,” katanya.
Ia berharap peluncuran kerja sama tersebut menjadi titik awal bagi penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok di sektor kelautan dan perikanan.
“Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia akan seperti biasa mendukung kerja sama ekonomi biru kedua negara, khususnya kerja sama praktis di bidang perikanan, terus memperdalam dan memperluas kerja sama,” ujar Li Hongwei.
Ia menegaskan, Tiongkok dan Indonesia memiliki kepentingan bersama dalam membangun sektor perikanan yang produktif sekaligus berkelanjutan.
“Semoga kedua pihak Tiongkok dan Indonesia menjadikan kegiatan peluncuran ini sebagai titik awal, berjalan bersama, mendorong kerja sama perikanan Tiongkok-Indonesia untuk berlayar dan berkembang secara sehat,” pungkasnya.


