Kegiatan tersebut menggandeng Global Environment Facility (GEF) 6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal dan memperkuat dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk mengubah hasil tangkapan nelayan yang selama ini banyak dipasarkan sebagai ikan segar menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Bakso ikan yang dikembangkan diproyeksikan menjadi salah satu alternatif sumber protein berbasis hasil laut yang dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, khususnya bagi anak-anak dan penerima manfaat program MBG.
Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Badan Gizi Nasional yang mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari menu MBG. BGN sebelumnya menegaskan bahwa menu MBG dapat disesuaikan dengan potensi pangan di masing-masing daerah, termasuk ikan laut di wilayah Maluku.
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik pembuatan bakso ikan, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai pengolahan yang higienis, formulasi bahan, keamanan pangan, hingga upaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Pemanfaatan ikan lokal sebagai bahan baku produk olahan dinilai dapat memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, masyarakat memperoleh alternatif sumber protein bergizi, sementara di sisi lain nelayan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan peluang meningkatkan pendapatan melalui produk bernilai tambah.
Kolaborasi dengan GEF-6 CFI Indonesia juga memiliki relevansi kuat dengan agenda pengelolaan perikanan berkelanjutan di Maluku Tenggara. Program CFI Indonesia yang didukung GEF-6 memang mencakup Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715, 717, dan 718, dengan Maluku Tenggara termasuk salah satu wilayah sasaran program.
KKP menyebut program CFI-ICP diarahkan pada pengelolaan perikanan dengan pendekatan berbasis ekosistem sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sementara itu, CFI Indonesia dalam berbagai kegiatan di wilayah pesisir juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, diversifikasi produk olahan ikan, peningkatan nilai tambah, keamanan pangan, serta akses pasar, termasuk peluang keterhubungan dengan program MBG.
Bagi Maluku Tenggara, pengembangan bakso ikan menjadi peluang untuk membangun mata rantai ekonomi baru dari sektor perikanan. Ikan yang ditangkap nelayan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk siap konsumsi dengan nilai jual lebih tinggi.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, inovasi tersebut berpotensi mempertemukan tiga kepentingan sekaligus, yakni pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan nelayan dan UMKM, serta pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, GEF-6 CFI Indonesia, dan program pemerintah pusat diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi model pengolahan hasil perikanan berbasis masyarakat yang mampu memasok kebutuhan pangan bergizi sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Dengan demikian, ikan dari laut Maluku Tenggara tidak hanya menjadi komoditas perdagangan, tetapi dapat hadir di meja makan anak-anak sebagai pangan bergizi sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat pesisir.


