RRI Fest 2026: Merawat Tradisi, Menyatukan Negeri, Generasi Muda Jadi Penentu Masa Depan


MALUKU TENGGARA, LANGGUR — Radio Republik Indonesia (RRI) Langgur berkolaborasi dengan SMA Negeri 3 Maluku Tenggara menggelar RRI Fest 2026 dengan mengusung tema “Merawat Tradisi, Menyatukan Negeri” Kamis (27/8). Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan seni, budaya, pendidikan, dan semangat kebangsaan sekaligus mendorong generasi muda agar tidak kehilangan akar tradisinya di tengah perkembangan zaman.

RRI Fest 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mengangkat kembali nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat Kei. Pesan utama kegiatan tersebut adalah bahwa tradisi tidak boleh berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan harus terus dihidupkan dan disesuaikan dengan kehidupan generasi masa kini.

Kepala Lembaga Penyiaran Publik RRI Langgur, Yakobus Resubun,S.Sos, dalam sambutannya menegaskan peran RRI sebagai ruang edukasi, ekspresi seni, sekaligus ruang publik bagi masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa RRI di wilayah tersebut telah menggunakan nomenklatur RRI Langgur sejak 30 Juli 2026.

Menurutnya, RRI terus memperkuat program pendidikan dan keterlibatan dengan sekolah. Salah satunya melalui pengembangan English Corner bersama SMA Negeri 3 Maluku Tenggara.

Selain itu, RRI terus melakukan transformasi digital melalui aplikasi RRI Digital serta berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok.

Dalam beberapa bulan terakhir, RRI Langgur juga telah membangun kolaborasi dengan sejumlah sekolah, di antaranya SMP Negeri 2 Tual, SMA Negeri 1 Tual, SMP Budi Mulia Langgur, dan SMA Negeri 3 Maluku Tenggara.

RRI juga membuka ruang bagi talenta muda melalui ajang Bintang Radio, khususnya untuk menjaring dan mengembangkan bakat vokal generasi muda.

Tradisi Kei Bukan Sekadar Tarian

Salah satu bagian penting RRI Fest 2026 adalah talk show bertajuk “Merawat Tradisi, Menyatukan Negeri” yang dipandu Fiana Benita dari RRI Langgur.

Talk show menghadirkan budayawan dan pelestarian budaya Kei, Petronela Savsavubun, S.H., Kepala SMA Negeri 3 Maluku Tenggara Domitila Teniwut, S.Pd., serta Ketua OSIS SMA Negeri 3 Maluku Tenggara Dita Far-far.

Petronela menekankan bahwa tradisi tidak boleh dipahami sebatas tarian, pakaian adat, atau upacara seremonial.

Menurutnya, tradisi juga mencakup nilai sosial yang mengikat masyarakat, salah satunya Yelim, yakni semangat membantu sesama tanpa membedakan latar belakang.

Dalam situasi duka, misalnya, kehadiran dalam Yelim bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab sosial masyarakat.

Nilai serupa juga tercermin dalam tradisi Pela, Dekefuar, dan Koi Maduan, yang mengajarkan pentingnya saling membantu dan mendukung tanpa mengharapkan imbalan.

Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda memahami bahwa tradisi tidak identik dengan sesuatu yang kuno.

“Tradisi harus dijelaskan dengan bahasa generasi sekarang agar anak muda memahami bahwa nilai yang terkandung di dalamnya masih sangat relevan,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut.

Sekolah Jadi Benteng Pelestarian Karakter

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, Domitila Teniwut, menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai tradisi dan karakter kepada peserta didik.


Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui apel pagi, doa bersama, kegiatan sosial, hingga pembiasaan hidup bersama.

Pendidikan karakter bahkan dilakukan secara rutin setiap Jumat dengan menanamkan nilai empati, gotong royong, musyawarah, dan kepedulian terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, pendidikan keagamaan, serta berbagai kegiatan yang mendorong kerja sama antarsiswa.

Generasi Z: Tradisi Harus Beradaptasi

Ketua OSIS SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, Dita Far-far, membawa perspektif generasi muda dalam diskusi tersebut.

Ia menilai tradisi tetap dapat diterapkan dalam kehidupan modern, meski bentuknya mengalami perubahan.

Gotong royong, misalnya, dapat diwujudkan melalui penggalangan dana, aksi sosial, kegiatan kerelawanan, hingga berbagai kampanye kemanusiaan di media sosial.

Begitu pula dengan musyawarah yang dapat diterapkan dalam rapat OSIS ketika siswa merencanakan dan mengambil keputusan terkait berbagai kegiatan sekolah.

Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan konten edukatif, kampanye sosial, serta mengajak generasi muda menjadi influencer kebaikan.

Pesan yang mengemuka dari perspektif generasi muda itu sederhana: semangat kebersamaan tidak hilang, tetapi medianya berubah.

Sika-Sika hingga Paduan Suara Meriahkan RRI Fest

Semangat keberagaman turut terlihat melalui pertunjukan seni dan budaya.

Sanggar Malowan, sanggar tari SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, menampilkan Tarian Sika-Sika dari Papua. Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan Indonesia.

Paduan suara SMA Negeri 3 Maluku Tenggara juga tampil membawakan lagu orisinal ciptaan Abdul Razak Madubun, S.Pd.I., yang kemudian diaransemen oleh guru SMA Negeri 3 Maluku Tenggara.

Pertunjukan tersebut memperlihatkan bagaimana sekolah dapat menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas sekaligus pelestarian seni budaya.

“Merdeka!” Menggema, Generasi Muda Disebut Penentu Bangsa

Rangkaian kegiatan kemudian ditandai dengan pelepasan balon sebagai simbol pembukaan RRI Fest 2026. Meski sempat diwarnai momen unik karena balon tidak langsung terbang, suasana tetap berlangsung penuh semangat dan antusiasme.

Seruan “Merdeka!” pun menggema sebagai penegasan pesan kebangsaan yang menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.

RRI Fest 2026 pada akhirnya membawa satu pesan kuat: generasi muda bukan hanya penerus bangsa, tetapi penentu masa depan bangsa.

Karena itu, merawat tradisi bukan berarti kembali ke masa lalu. Merawat tradisi berarti menjaga nilai-nilai luhur yang masih relevan, kemudian membawanya ke tengah kehidupan modern agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kolaborasi RRI Langgur dan SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, seni, budaya, pendidikan, teknologi, dan semangat kebangsaan dipertemukan dalam satu panggung dengan satu tujuan: merawat tradisi untuk menyatukan negeri.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR