Meski demikian, Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, menilai berbagai tantangan kesehatan masih perlu mendapat perhatian serius di daerah.
"Masih ada persoalan akses layanan kesehatan, kualitas pelayanan, penyakit menular dan tidak menular, serta kebutuhan sarana-prasarana yang harus terus dibenahi," katanya saat membuka Workshop Analisis Situasi dan Penyusunan Rencana Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2027 di Ballroom Aurelia Kimson Hotel Langgur, Selasa (9/6/2026).
Rahantoknam menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan yang disusun pemerintah daerah.
Hal senada disampaikan Koordinator Pendampingan Tata Kelola Program Kesehatan dari Universitas Airlangga, Dr. Setia Harsaman.
Menurutnya, perencanaan kesehatan harus berbasis bukti dan data yang akurat agar seluruh program dapat menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Ia mencontohkan program kesehatan ibu hamil dan penanganan stunting yang memerlukan data sasaran yang tepat agar penggunaan anggaran menjadi lebih efektif dan efisien.
"Kalau jumlah ibu hamil atau anak stunting diketahui secara akurat, maka intervensi yang dilakukan akan lebih tepat sasaran dan hasilnya lebih optimal," jelasnya.
Melalui pendampingan yang berlangsung hingga September mendatang, pemerintah daerah diharapkan mampu menghasilkan dokumen perencanaan kesehatan yang lebih terintegrasi dengan kebijakan nasional sekaligus menjawab tantangan khas wilayah kepulauan.
Dokumen tersebut nantinya menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Maluku Tenggara.


