Kesan tersebut disampaikan Prof. Leni usai mengikuti acara penerimaan mahasiswa KKN-PPM UGM dan Universitas Pattimura (Unpatti) di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, selama tiga hari mendampingi mahasiswa di Ohoi Elaar Let, Elaar Lamagorang, dan Elaar Ngursoin, ia merasakan langsung kehangatan masyarakat yang menerima mahasiswa layaknya keluarga sendiri.
"Yang paling menyentuh bagi kami adalah masyarakat menerima kami dengan hati yang sangat terbuka. Mulai dari para tetua adat, orang tua, hingga anak-anak menyambut kami dengan senyum yang tulus. Itu membuat kami merasa seperti berada di rumah sendiri," ujar Prof. Leni.
Ia menilai budaya masyarakat Kei merupakan kekayaan sosial yang sangat berharga dan patut dipelajari oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Belajar Arti Persaudaraan dari Tanah Kei
Menurut Prof. Leni, salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di Maluku Tenggara adalah melihat kehidupan masyarakat yang mampu menjaga persaudaraan tanpa mempersoalkan perbedaan agama.
Ia mengaku menemukan kenyataan bahwa dalam satu marga bahkan satu keluarga besar terdapat anggota yang memeluk agama Islam, Protestan, maupun Katolik, namun tetap hidup berdampingan secara harmonis.
"Bagi kami itu luar biasa. Dalam satu keluarga bisa berbeda keyakinan, tetapi mereka tetap saling menghormati, saling membantu, dan tetap menganggap diri sebagai satu keluarga. Ini adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya," katanya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan warisan budaya yang sangat penting untuk terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Ia berharap semangat persaudaraan masyarakat Kei dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia dalam memperkuat persatuan bangsa.
Mahasiswa Belajar Indonesia dari Timur
Prof. Leni menjelaskan sebagian besar mahasiswa UGM yang mengikuti KKN di Maluku Tenggara berasal dari Pulau Jawa, Jakarta, dan sejumlah daerah lain yang belum pernah mengunjungi Indonesia bagian timur.
Karena itu, pengalaman tinggal selama 50 hari bersama masyarakat menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga bagi mereka.
"Mereka datang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga belajar langsung dari masyarakat. Mereka belajar tentang budaya, adat istiadat, cara hidup masyarakat kepulauan, hingga bagaimana menghargai perbedaan," ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran seperti itu tidak mungkin diperoleh hanya melalui kegiatan di ruang kuliah.
Mahasiswa akan memahami bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa, namun tetap dipersatukan oleh semangat kebangsaan.
"Kami ingin mahasiswa melihat Indonesia secara utuh. Indonesia bukan hanya kota-kota besar di Pulau Jawa, tetapi juga daerah-daerah kepulauan seperti Maluku Tenggara yang memiliki nilai budaya sangat tinggi," katanya.
Toleransi yang Layak Dikenalkan ke Dunia
Sebagai seorang akademisi, Prof. Leni menilai kehidupan masyarakat Kei memiliki nilai universal yang layak diperkenalkan hingga ke tingkat internasional.
Ia mengaku kagum melihat bagaimana masyarakat mampu menjaga hubungan kekeluargaan meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.
"Menurut saya, ini bukan hanya menjadi contoh bagi Indonesia, tetapi juga layak diketahui dunia. Kita bisa hidup berdampingan dengan damai meskipun berbeda keyakinan. Itu yang kami lihat setiap hari selama berada di sini," tuturnya.
Ia mengatakan, masyarakat tidak hanya mengajarkan arti toleransi melalui kata-kata, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
UGM Siapkan Buku tentang Maluku Tenggara
Kekaguman terhadap budaya masyarakat Kei juga akan diwujudkan dalam sebuah karya ilmiah.
Prof. Leni mengungkapkan, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ditargetkan menyusun sebuah buku yang mendokumentasikan pengalaman mereka selama melaksanakan KKN di Maluku Tenggara.
Buku tersebut akan memuat berbagai perspektif mengenai budaya, kehidupan sosial, potensi pariwisata, ekonomi masyarakat, hingga nilai-nilai persaudaraan yang ditemukan selama tinggal bersama warga.
"Sudah banyak buku tentang Maluku Tenggara, tetapi kami ingin menghadirkan sudut pandang baru melalui pengalaman langsung mahasiswa yang hidup bersama masyarakat selama lima puluh hari," jelasnya.
Ia berharap buku tersebut menjadi dokumentasi akademik sekaligus media promosi yang memperkenalkan kekayaan budaya Maluku Tenggara kepada masyarakat Indonesia.
Potensi Wisata yang Masih Asri
Selain budaya, Prof. Leni juga menilai wilayah Kei Kecil Timur Selatan memiliki potensi wisata yang sangat besar.
Pantai-pantai yang masih alami, kehidupan masyarakat yang ramah, serta kekayaan budaya lokal menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Melalui mahasiswa dari klaster Humaniora dan Pariwisata, UGM akan membantu mengidentifikasi potensi wisata serta memberikan pelatihan pengelolaan homestay kepada masyarakat.
Menurutnya, jika wisatawan dapat tinggal lebih lama di desa-desa wisata, maka manfaat ekonomi akan langsung dirasakan masyarakat setempat.
Persaudaraan adalah Kekuatan Maluku Tenggara
Di akhir keterangannya, Prof. Leni mengaku membawa pulang kesan yang sangat mendalam tentang kehidupan masyarakat Kei.
Baginya, kekuatan terbesar Maluku Tenggara bukan hanya keindahan alamnya, tetapi juga nilai persaudaraan yang terus hidup di tengah masyarakat.
"Perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun. Justru di Maluku Tenggara kami belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan. Persaudaraan yang kami rasakan di sini adalah pelajaran berharga yang akan kami bawa pulang dan kami ceritakan kepada Indonesia," pungkasnya.


