Rumah Diserang 22 Orang, Keluarga Korban di Beber Timur Desak Kapolda Copot Kapolres MBD dan Kapolsek Damer

Rumah Diserang 22 Orang, Keluarga Korban di Beber Timur Desak Kapolda Copot Kapolres MBD dan Kapolsek Damer. Foto/dok: istimewa.
MBD, HARIANMALUKU.com — Keluarga korban dugaan penyerangan dan pengrusakan rumah di Desa Beber Timur, Kecamatan Pulau Damer, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), meluapkan kekecewaan terhadap kinerja aparat kepolisian yang dinilai lamban menangani kasus yang telah dilaporkan sejak 2023.

Melalui pernyataan terbuka pada Kamis (9/4/2026), Bravo Latunussa, keluarga dari korban Andreas Latumusa, menegaskan bahwa hingga kini para terduga pelaku belum juga diproses secara tegas, meski laporan resmi telah lama disampaikan kepada pihak kepolisian.

“Sampai detik ini polisi seperti tidur dan masa bodoh. Kami sudah lapor, tetapi belum ada langkah tegas terhadap para pelaku,” kata Bravo.

Rumah Dilempari Batu, Kaca Pecah, Keluarga Lari Selamatkan Diri

Bravo mengungkapkan, insiden mencekam itu terjadi pada tahun 2023, ketika rumah korban didatangi dan diserang oleh sekitar 22 orang.

Menurutnya, aksi tersebut berlangsung brutal. Rumah korban dilempari batu dan dirusak menggunakan kayu serta benda lain, saat di dalam rumah masih ada orang tua, istri, dan anak-anak.

“Awalnya terdengar bunyi lemparan batu di atap seng. Setelah itu batu mulai menghantam pintu dan jendela hingga seluruh kaca rumah pecah,” ujarnya.

Situasi semakin mencekam ketika salah satu terduga pelaku yang disebut bernama Julius Lenusa diduga membawa senjata tajam jenis cis dan bahkan disebut sempat melepaskan tembakan ke arah rumah.

Akibat serangan itu, korban bersama keluarga terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa.

Korban Pilih Jalur Hukum, Tapi Kasus Mandek

Usai kejadian, keluarga korban langsung menuju Tiakur untuk membuat laporan polisi. Bravo mengatakan, saat itu aparat dari kepolisian dan Koramil sempat turun langsung ke lokasi dan melihat kerusakan rumah.

Namun, meski laporan telah diterima dan para terduga pelaku disebut sudah pernah dipanggil untuk dimintai keterangan, proses hukum dinilai jalan di tempat.

“Dari 2024 sampai 2026, kami belum melihat ada penanganan maksimal. Padahal ini bukan persoalan kecil, ini menyangkut keselamatan keluarga,” tegasnya.

Keluarga Korban Sentil Polisi: Jangan Lindungi Pelaku

Merasa keadilan tak kunjung datang, keluarga korban kini meminta perhatian serius dari Kapolda Maluku. Mereka mendesak agar ada evaluasi terhadap jajaran kepolisian di wilayah Maluku Barat Daya, khususnya yang menangani perkara tersebut.

Bravo bahkan secara terbuka meminta Kapolres Maluku Barat Daya dan Kapolsek Pulau Damer dicopot dari jabatannya karena dianggap gagal memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat.

“Kami minta Kapolda Maluku segera menegur bahkan mencopot Kapolres MBD dan Kapolsek Pulau Damer, karena terkesan membiarkan bahkan seolah melindungi kejahatan-kejahatan seperti ini di Beber Timur,” katanya.

“Kalau Mau Balas, Kami Bisa. Tapi Kami Pilih Hukum”

Dalam pernyataannya, Bravo menegaskan bahwa pihak keluarga sebenarnya bisa saja melakukan perlawanan saat kejadian. Namun mereka memilih menahan diri dan menyerahkan persoalan itu kepada aparat penegak hukum.

“Kalau saat itu kami mau ambil jalan sendiri, mungkin bisa saja terjadi korban jiwa. Tapi kami memilih berlindung di bawah payung hukum. Kami datang ke polisi untuk minta perlindungan, bukan untuk diabaikan,” ujarnya.

Keluarga Mengaku Resah, Minta Kepastian Hukum

Hingga kini, keluarga korban mengaku masih dihantui rasa takut dan resah karena belum ada kepastian hukum yang jelas atas kasus tersebut.

Mereka berharap Polda Maluku segera turun tangan agar penanganan perkara tidak terus berlarut-larut dan menimbulkan kesan bahwa hukum hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul terhadap pelaku kekerasan di desa.

“Yang kami minta hanya keadilan. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan kepada hukum,” tutup Bravo.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR