Oleh: Rani Yanti Ngabalin, M.I.Kom_
Namun yang jarang terlihat adalah luka-luka yang lebih dahulu hadir sebelum api itu menyala.
Yang tidak banyak diangkat adalah bagaimana beberapa warga dari pihak kami jatuh sebagai korban, terkena panah, mengalami luka serius, dan hingga saat ini masih ada yang belum mendapatkan tindakan medis maksimal karena harus menunggu proses rujukan. Ada tubuh yang masih menahan sakit, ada keluarga yang berjaga dengan cemas, ada tangis yang tidak sempat direkam kamera.
*Yang juga nyaris tenggelam dalam arus pemberitaan adalah bagaimana kami kehilangan saudara kami, Aimar.😢😭💔*
Bagi kami, ia bukan sekadar nama dalam daftar korban. Ia adalah anak, saudara, keluarga, dan bagian dari kehidupan kampung ini.
Kepergiannya meninggalkan luka yang sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata.
*Bukan hanya karena ia meninggal, tetapi karena cara ia kehilangan nyawa menghadirkan duka yang begitu berat untuk diterima. Luka-luka yang terlihat pada tubuhnya menunjukkan betapa tragis peristiwa itu terjadi.*
Ada sayatan di banyak bagian tubuh, ada luka tusukan berulang di bagian perut, yang bagi siapa pun yang melihatnya akan sulit melupakan kenyataan bahwa seorang manusia bisa mengalami akhir sekejam itu.
*Kami tidak sedang menulis ini untuk membalas dengan kemarahan.*
*Kami juga tidak sedang meminta siapa pun membenci pihak lain.*
*Kami hanya berharap publik memahami bahwa di balik narasi yang saat ini lebih ramai beredar, ada sisi lain yang juga layak dilihat dengan empati.*
Rumah yang terbakar memang menyedihkan. Tetapi sebelum itu, ada tubuh yang terluka. Ada nyawa yang hilang. Ada keluarga yang lebih dulu hancur.
Karena dalam konflik seperti ini, jika yang dilihat hanya akibat akhir tanpa memahami luka yang mendahuluinya, maka opini akan selalu pincang.
Kami percaya bahwa setiap korban berhak dilihat sebagai manusia. Setiap luka berhak dipahami dengan adil. Dan setiap duka tidak boleh dipilih-pilih untuk mendapatkan perhatian.
Hari ini kami hanya meminta satu hal: lihatlah peristiwa ini secara utuh.
Jangan biarkan sebagian kesedihan menjadi viral, sementara sebagian lainnya tenggelam tanpa suara.
Karena rasa sakit tidak selalu tampak dalam video yang beredar.
Kadang ia tinggal dalam tubuh yang menahan panah, dalam keluarga yang menunggu rumah sakit, dalam keluarga yang kehilangan anaknya, dan dalam kampung yang sedang berusaha memahami mengapa semuanya bisa terjadi.
Semoga semua yang telah terjadi menjadi pelajaran bahwa tidak ada luka yang pantas dipertandingkan, dan tidak ada nyawa yang boleh dianggap lebih kecil nilainya dari narasi apa pun.
*Sebab pada akhirnya, di balik setiap konflik, yang paling membutuhkan tempat adalah kemanusiaan.*
.jpg)

