Pertemuan terbuka itu bukan sekadar ajang silaturahmi. Di hadapan perangkat ohoi, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan warga, Tarsisius memaparkan arah kebijakan pemerintahan ohoi ke depan—termasuk isu krusial efisiensi anggaran.
Rapat tersebut turut dihadiri Sekretaris Kecamatan Kei Besar, Jacson Faref, dan menjadi forum perdana setelah Tarsisius resmi dipercaya memimpin Ohoi Wulurat.
Fokus Benahi Perangkat dan Kelembagaan Ohoi
Dalam pemaparannya, Tarsisius menegaskan pentingnya penataan perangkat dan kelembagaan ohoi, termasuk mempersiapkan keabsahan BPO, perangkat ohoi, serta struktur kelembagaan lainnya.
Ia secara terbuka mengungkap kondisi keuangan ohoi yang tengah mengalami efisiensi, sehingga berdampak langsung pada pembiayaan program dan pembayaran insentif.
“Karena kondisi keuangan ohoi yang mengalami efisiensi, maka mau tidak mau harus kita lakukan penataan, termasuk penyesuaian pembayaran insentif perangkat dan lembaga di ohoi,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa penyesuaian yang terukur dan transparan, dampaknya bisa merembet ke berbagai aspek pelayanan dan pembangunan di tingkat ohoi.
Warga Soroti Infrastruktur dan Transparansi Dana
Sesi dialog berlangsung dinamis. Sejumlah warga menyampaikan aspirasi terkait pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan pelayanan publik, hingga pengelolaan dana desa yang lebih transparan dan tepat sasaran.
Menanggapi berbagai masukan itu, Tarsisius—yang juga dikenal sebagai akademisi STIS Tual—berkomitmen menampung seluruh aspirasi sebagai bahan evaluasi dan prioritas kerja.
Tokoh masyarakat setempat menyambut baik pertemuan tersebut dan berharap kepemimpinan baru mampu menghadirkan perubahan nyata serta memperkuat tata kelola pemerintahan di Ohoi Wulurat.
Pertemuan perdana ini pun dinilai menjadi titik awal membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah ohoi dan masyarakat, demi mewujudkan Ohoi Wulurat yang maju, mandiri, dan sejahtera.


