Thaher Hanubun: Wer Warat Simbol Gotong Royong dan Persatuan Orang Kei


LANGGUR, HARIANMALUKU.com — Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun menegaskan bahwa tradisi Wer Warat atau tarik tali bukan sekadar cara tradisional menangkap ikan, melainkan simbol gotong royong dan persatuan masyarakat Kei.

Pesan tersebut disampaikan Thaher Hanubun seusai pelaksanaan Wer Warat dalam rangka Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 di Pantai Hoar Ngan, Ohoi Danar Sare, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, Kamis (22/10/2026).

Menurut Thaher, tradisi Wer Warat mengajarkan bahwa pekerjaan besar tidak dapat diselesaikan seorang diri, tetapi membutuhkan kebersamaan dan kerja sama semua pihak.

“Makna dari Wer Warat atau tarik tali adalah satu pekerjaan tidak mungkin dilaksanakan oleh satu orang. Kita harus bersama-sama menyelesaikan segala hal yang terjadi,” kata Thaher kepada wartawan.

Ia menjelaskan, Wer Warat merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kei yang berkaitan dengan aktivitas mencari ikan ketika air laut surut. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggunakan janur kelapa untuk menggiring ikan menuju jaring yang telah disiapkan di daratan.

Tradisi tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya lokal yang terus dipertahankan dan diperkenalkan melalui Festival Pesona Meti Kei.

Thaher menilai, nilai gotong royong dalam Wer Warat juga relevan dengan kehidupan bermasyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan. Menurutnya, pembangunan daerah tidak mungkin berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah, organisasi perangkat daerah (OPD), dan seluruh elemen masyarakat.

“Kalau kita bersatu, akhirnya ikan itu bisa kita ambil. Karena kita bersatu,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah-belah. Semangat kebersamaan yang tercermin dalam tradisi Wer Warat, katanya, harus menjadi landasan untuk memajukan Maluku, khususnya Kabupaten Maluku Tenggara dan Kepulauan Kei.

Festival untuk Melestarikan Budaya Kei

Thaher mengatakan, Festival Pesona Meti Kei merupakan agenda tahunan yang telah tercatat di Kementerian Pariwisata. Pemerintah daerah terus berupaya mencari format kegiatan yang sesuai agar festival tersebut semakin dikenal dan mampu menarik kunjungan wisatawan.

Meski pelaksanaannya menghadapi tantangan, termasuk kondisi cuaca dan akses transportasi, ia menegaskan bahwa tradisi masyarakat Kei perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara.

Menurutnya, Kepulauan Kei memiliki beragam tradisi dan potensi wisata yang dapat dikembangkan, tidak hanya Wer Warat, tetapi juga berbagai kegiatan budaya dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia juga berharap adanya peningkatan konektivitas transportasi menuju Kepulauan Kei, termasuk peluang penerbangan langsung dari Bali maupun Darwin, Australia, untuk memudahkan wisatawan dan keluarga masyarakat Kei di luar negeri berkunjung ke daerah tersebut.

Bagi Thaher, esensi Wer Warat tidak berhenti pada keberhasilan menangkap ikan. Lebih dari itu, tradisi ini mengandung pesan bahwa kebersamaan merupakan kekuatan utama dalam menyelesaikan persoalan dan membangun masa depan daerah.

Melalui Festival Pesona Meti Kei 2026, nilai gotong royong dan persatuan tersebut diharapkan terus hidup di tengah masyarakat sekaligus memperkuat pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata Kepulauan Kei.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR