Pesan tersebut disampaikan Usman dalam sambutannya pada Wisuda ke-XXI Politeknik Perikanan Negeri Tual Tahun 2026 di Tual, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Usman, Kepulauan Kei memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Namun, kekayaan sumber daya laut tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
"Sayang sekali bahwa melimpahnya potensi sumber daya perikanan di Kepulauan Kei secara khusus dan Maluku secara umum ternyata belum dapat dikonversi oleh masyarakatnya untuk kesejahteraan," kata Usman.
Ia menyebutkan, wilayah Maluku Tenggara dan Kota Tual memiliki beragam potensi perikanan tangkap dan budidaya, mulai dari ikan pelagis dan demersal, kerapu, kakap, teripang, rumput laut, tiram mutiara, lobster hingga udang.
Potensi tersebut berada dalam wilayah pengelolaan perikanan yang strategis. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan alat tangkap, sarana budidaya, jenis komoditas, modal, serta kualitas sumber daya manusia nelayan, pembudidaya dan pengolah hasil perikanan.
Kondisi itu, kata Usman, berdampak terhadap rendahnya pendapatan masyarakat dari sektor kelautan dan perikanan, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan rumah tangga dan perkembangan ekonomi daerah.
Polikant Lahir untuk Menjawab Tantangan Laut Kei
Usman mengatakan, semangat menjadikan pendidikan perikanan sebagai salah satu jalan keluar dari persoalan pemanfaatan sumber daya laut telah menjadi bagian dari sejarah berdirinya Polikant.
Cikal bakal Polikant bermula dari Akademi Perikanan Larvul Ngabal Tual (Akperlanga) yang didirikan melalui Yayasan Larvul Ngabal pada 1997.
Perjuangan untuk menegerikan Akperlanga kemudian mendapat dukungan berbagai elemen masyarakat Maluku Tenggara hingga pada 18 Agustus 2004 dilakukan penyerahan aset Akperlanga kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Momentum tersebut menjadi tonggak penting perjalanan Polikant dan kemudian diperingati sebagai bagian dari Dies Natalis.
"Akperlanga maupun Polikant oleh para pendirinya diharapkan menjadi salah satu jalan keluar dari paradoks sumber daya alam laut," ujarnya.
Karena itu, keberadaan Polikant diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang dapat mengubah potensi perikanan menjadi produk ekonomi bernilai tambah.
Empat Pilar Jadi Arah Pengembangan Polikant
Dalam menghadapi dinamika global dan perkembangan industri maritim, Polikant menetapkan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 yang berorientasi pada empat sasaran utama.
Keempat sasaran tersebut meliputi talenta, inovasi, kontribusi kepada masyarakat, dan tata kelola berintegritas.
Pada bidang talenta, Polikant memperkuat kualitas lulusan melalui kurikulum Outcome-Based Education (OBE), sertifikasi kompetensi industri, Case Method, Project Based Learning (PBL), serta pengembangan Teaching Factory (TEFA).
Di bidang inovasi, riset terapan diarahkan pada komoditas unggulan lokal, seperti rumput laut, teripang, mangrove dan teknologi pengolahan hasil perikanan.
Sementara dalam pengabdian kepada masyarakat, Polikant mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna dan pendampingan UMKM pesisir.
"Polikant tidak ingin hanya berdiri sebagai menara gading, melainkan ingin terus menjadi menara air yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal," tegas Usman.
Pemda dan Dunia Usaha Diajak Bersinergi
Dalam kesempatan tersebut, Usman juga mengajak Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, Pemerintah Kota Tual, perusahaan perikanan, BUMN, BUMD dan perbankan memperkuat kolaborasi dengan Polikant.
Menurutnya, terdapat tiga fokus kerja sama yang dapat dikembangkan, yakni pembukaan kelas khusus dan beasiswa daerah, optimalisasi TEFA sebagai pusat pelatihan masyarakat, serta penumbuhan wirausaha muda sektor kelautan dan perikanan.
Polikant, kata dia, siap membuka program peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan pembangunan daerah, termasuk menyiapkan tenaga terampil putra-putri daerah.
Fasilitas TEFA juga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan bagi nelayan, pembudidaya dan kelompok usaha masyarakat pesisir.
Selain itu, program inkubasi bisnis kampus dapat disinergikan dengan program pemberdayaan ekonomi pemerintah daerah, perbankan dan BUMN untuk melahirkan wirausahawan muda sektor perikanan.
Tiga Pesan untuk Wisudawan
Kepada para wisudawan, Usman menegaskan bahwa ijazah dan gelar yang diterima bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pembuktian di tengah masyarakat dan dunia kerja.
Ia menitipkan tiga pesan utama kepada para lulusan.
Pertama, menjadi talenta maritim yang adaptif dan tangguh dengan terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi kelautan.
Kedua, mengembangkan jiwa kewirausahaan bahari dengan memanfaatkan ilmu budidaya, teknologi penangkapan, pengolahan hasil laut, agribisnis dan pariwisata bahari.
Ketiga, menjaga integritas, etika dan kehormatan almamater di mana pun mereka berkarya.
"Saudara adalah cermin dari Politeknik Perikanan Negeri Tual. Dedikasikan kepakaran Saudara untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan kemajuan bangsa," pesan Usman.
Ia berharap para lulusan mampu membawa nama baik Polikant sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan Indonesia.
"Berlayarlah dengan gagah berani di samudra kehidupan. Kibarkan panji-panji kebanggaan almamater Politeknik Perikanan Negeri Tual," pungkasnya.


