Harapan tersebut disampaikan H. Djamaludin Koedoeboen, SH, MH, yang sebelumnya menjadi bagian dari tim pemenangan Gus Kikin untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Menurut Djamaludin, terpilihnya Gus Kikin dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, keputusan tersebut harus menjadi awal konsolidasi besar untuk memperkuat NU sebagai rumah bersama seluruh Nahdliyin.
“Alhamdulillah, apa yang kita perjuangkan dan harapkan bersama akhirnya mendapatkan kepercayaan dari para muktamirin. Namun bagi kami, ini bukan sekadar kemenangan sebuah tim, melainkan momentum bersama seluruh Nahdliyin untuk melihat NU ke depan semakin kuat dan bermartabat,” ujar Djamaludin.
Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU setelah proses Muktamar ke-35 yang berlangsung di Jombang. Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh dukungan suara terbanyak sebelum kemudian ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Djamaludin menilai amanah tersebut membawa tanggung jawab besar. Kepemimpinan baru PBNU, kata dia, harus mampu menjaga marwah NU sebagai organisasi keulamaan sekaligus memperluas khidmah di tengah berbagai persoalan masyarakat.
Bukan Sekadar Pergantian Figur
Djamaludin menegaskan, perubahan kepemimpinan PBNU tidak boleh berhenti pada pergantian figur.
Menurutnya, momentum Muktamar ke-35 harus menjadi titik awal untuk memperkuat kembali orientasi NU kepada khidmah, keteladanan ulama, persatuan Nahdliyin, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta kemaslahatan umat dan bangsa.
“Kepemimpinan NU tidak boleh hanya dimaknai sebagai pergantian figur. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kepemimpinan baru mampu mengembalikan orientasi organisasi kepada khidmah, keteladanan ulama, persatuan warga Nahdliyin, dan kemaslahatan umat,” tegasnya.
Ia berharap Gus Kikin mampu menghadirkan kepemimpinan yang teduh, terbuka, independen, dan mampu merangkul seluruh elemen NU.
“NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi rumah bersama. Solid secara internal, tetapi tetap terbuka dan mampu menjadi perekat kehidupan kebangsaan,” katanya.
Maluku dan Maluku Utara Titip Harapan
Sebagai bagian dari tim pemenangan Gus Kikin di wilayah Maluku dan Maluku Utara, Djamaludin berharap kepemimpinan baru PBNU tidak hanya kuat di tingkat pusat, tetapi juga mampu memperhatikan dinamika dan kebutuhan Nahdliyin di daerah.
Menurutnya, kekuatan NU justru berada pada struktur dan basis warga yang tersebar hingga pelosok negeri.
Karena itu, konsolidasi organisasi harus menyentuh seluruh tingkatan, termasuk penguatan kaderisasi, pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, serta peningkatan peran NU dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
“Harapan kita sederhana, NU semakin solid, kokoh, guyub dan teduh. Kepemimpinannya harus independen, menjaga marwah ulama serta memperluas khidmah kepada umat dan bangsa,” tutur Djamaludin.
Tantangan NU Semakin Kompleks
Djamaludin menyadari tantangan NU ke depan tidak semakin ringan. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan ekonomi, pendidikan, kemiskinan, hingga dinamika kebangsaan membutuhkan organisasi yang mampu bergerak cepat tanpa kehilangan akar tradisinya.
Karena itu, Gus Kikin diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren dan tuntutan zaman.
Gus Kikin sendiri dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia juga memiliki pengalaman dalam struktur organisasi NU dan sebelumnya aktif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur.
“NU harus tetap berakar pada tradisi keulamaan, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Pendidikan, ekonomi, teknologi, pemberdayaan masyarakat, kemanusiaan, dan kebangsaan harus menjadi bagian dari khidmah NU,” ujarnya.
Menurut Djamaludin, kepemimpinan Gus Kikin memiliki peluang untuk mempertemukan kekuatan tradisi pesantren dengan kebutuhan organisasi modern.
Dari Jombang untuk Indonesia
Djamaludin mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk mengakhiri perbedaan pilihan yang muncul selama proses Muktamar dan kembali bergandengan tangan membesarkan NU.
Ia menilai perbedaan merupakan bagian dari dinamika organisasi, sedangkan persatuan adalah modal utama untuk menjaga keberlangsungan NU.
“Perbedaan pandangan dan pilihan dalam Muktamar harus kita akhiri dengan semangat persatuan. Sekarang waktunya seluruh Nahdliyin bersama-sama mengawal amanah kepemimpinan baru,” katanya.
Ia berharap kepemimpinan Gus Kikin mampu menghadirkan energi baru bagi NU sekaligus mengembalikan organisasi pada khidmah yang menjadi napas utama perjuangan para ulama.
“Kita berharap dari Jombang lahir energi baru bagi NU. Kepemimpinan Gus Kikin harus menjadi momentum untuk menjaga marwah, memperkuat khidmah dan menghadirkan kemaslahatan bagi Nahdliyin, umat dan bangsa,” pungkas Djamaludin.


