Pelaksana Tugas Kadisdik Malra, Bin Raudha Arif Hanoeboen, mengakui sektor pendidikan masih menghadapi sejumlah persoalan kompleks yang menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Distribusi guru belum merata, literasi dan numerasi siswa masih rendah, serta Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan belum tuntas,” ungkapnya.
Ia menegaskan, efisiensi anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan semangat kerja. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi pemicu lahirnya inovasi.
“Anggaran boleh efisiensi, tapi semangat harus tetap penuh. Justru kita harus berpikir lebih keras dan bekerja lebih kreatif,” tegasnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Pendidikan atau guru semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan.
Pemkab Maluku Tenggara, lanjut dia, telah mendorong sejumlah program prioritas melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kementerian terkait dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
“Kami optimistis, dengan kerja bersama, kualitas SDM Maluku Tenggara bisa bersaing dengan daerah lain di Indonesia,” katanya.


